Denny JA Sebut Prabowo Bisa Dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa
SinPo.id - Pegiat media sosial dan penulis Denny JA menilai pidato Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026 bukan sekadar pidato ekonomi tahunan, melainkan deklarasi arah baru ekonomi Indonesia menuju kemandirian nasional.
Pernyataan itu disampaikan Denny JA dalam esai yang dipublikasikan melalui akun Facebook Denny JA’s World dan kemudian beredar luas di berbagai grup WhatsApp.
Menurut Denny JA, inti pidato Prabowo menegaskan, Indonesia bukan negara miskin, melainkan negara kaya yang kekayaannya terlalu lama bocor ke luar negeri.
“Ini paradoks terbesar Indonesia: negeri kaya, tetapi banyak rakyatnya belum menikmati kekayaan itu secara adil,” ujar Denny JA, dalam keterangannya, Jumat, 22 Mei 2026.
Dia menggambarkan kondisi Indonesia seperti “rumah besar beratap emas, tetapi lantainya bocor di banyak sudut.”
Dalam pidatonya, kata dia, Prabowo menyebut Indonesia mencatat surplus perdagangan sekitar US$ 436 miliar selama 22 tahun terakhir. Namun sekitar US$ 343 miliar di antaranya disebut kembali mengalir ke luar negeri.
Jika dirata-ratakan, kata Denny JA mengutip pidato Presiden, kebocoran tersebut mencapai sekitar US$ 15,6 miliar per tahun atau setara Rp 265 triliun.
Selain itu, Prabowo juga menyinggung potensi kerugian akibat praktik under-invoicing selama 34 tahun yang diperkirakan mencapai US$ 908 miliar atau sekitar Rp 15.400 triliun.
“Ini bukan sekadar kebocoran kecil. Ini lubang besar dalam struktur ekonomi nasional,” kata Denny JA.
Denny JA menilai arah kebijakan ekonomi Prabowo dekat dengan konsep developmental state seperti yang pernah dijalankan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.
Dalam model itu, kata dia, negara hadir aktif memilih sektor strategis, membangun industri nasional, mengarahkan investasi, serta mendorong transfer teknologi.
“Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan tidak naik kelas hanya dengan menjual bahan mentah. Mereka maju karena negara memimpin industrialisasi dengan disiplin dan visi jangka panjang,” ujarnya.
Menurut dia, Prabowo sedang membawa Indonesia kembali pada semangat Pasal 33 UUD 1945, dengan negara menjadi pengarah utama ekonomi strategis tanpa mematikan mekanisme pasar.
“Ini bukan sosialisme klasik, tetapi jalan tengah. Pasar tetap hidup, namun negara hadir untuk menjaga agar kekayaan nasional tidak terus bocor,” tulis Denny JA.
Kendati demikian, Denny JA mengingatkan keberhasilan model tersebut sangat bergantung pada kualitas tata kelola negara. Ia menilai kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN hanya akan efektif jika dijalankan secara transparan, berbasis teknologi digital, diawasi secara real-time, serta diaudit secara independen.
“Jika tidak, kebocoran lama hanya pindah rumah: dari swasta gelap ke birokrasi gelap,” katanya.
Dia juga menyinggung pengalaman Venezuela dan Nigeria sebagai contoh negara kaya sumber daya alam yang gagal membangun kesejahteraan akibat lemahnya institusi dan tingginya korupsi.
“Pelajaran dunia sangat jelas: negara kuat tanpa integritas bisa berubah menjadi predator. Tetapi negara kuat dengan kompetensi bisa menjadi pembangun peradaban,” ujar Denny JA.
Denny JA menegaskan pidato Prabowo hanya akan dikenang apabila diikuti disiplin tata kelola dan reformasi institusi secara nyata, bukan berhenti pada retorika politik.
Namun, lanjutnya, jika pemerintah mampu menutup kebocoran ekonomi, memimpin industrialisasi nasional, dan memastikan kekayaan alam kembali kepada rakyat, dia meyakini Prabowo akan menempati posisi penting dalam sejarah Indonesia.
“Jika berhasil, Prabowo meletakkan fondasi Indonesia baru. Ia akan dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa,” pungkas Denny JA.
