Kemendag Catat Potensi Transaksi Dagang RI Capai Rp1,06 Triliun di SIAL Shanghai

Laporan: Tio Pirnando
Rabu, 20 Mei 2026 | 18:27 WIB
Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri (SinPo.id/ Dok. Kemendag)
Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri (SinPo.id/ Dok. Kemendag)

SinPo.id - Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkapkan, potensi transaksi dagang RI dalam pemeran produk makanan dan minuman (mamin) terbesar di dunia yaitu Salon International de I'Alimentation (SIAL) Shanghai 2026 dan Misi Dagang di China pada 18-20 Mei 2026, mencapai US$ 60,3 juta atau kisaran Rp1,06 triliun (kurs Rp17.654/dolar) 

"Sementara dalam one on one business matching tercatat potensi transaksi senilai US$ 25,78 juta untuk produk rumput laut, arang kelapa, lada hitam, bubuk kakao, buah tropis," kata Roro yang memimpin misi dagang, dalam keterangannya, Rabu, 20 Mei 2026. 

Roro menyampaikan, sebanyak 22 perusahaan tanah air hadir dalam forum bisnis RI-China dengan membawa produk pertanian, buah, kopi, gula kelapa, hasil perikanan (rumput laut dan udang), makanan olahan, teripang dan produk turunan kelapa.

Dalam forum ini juga ditandatangani tujuh Nota Kesepahaman (MoU) antara perusahaan Indonesia dan importir China untuk produk sarang burung walet, rumput laut, kopi, rempah, teripang, produk turunan kelapa, durian beku, dan buah tropis.

Roro mengatakan, China merupakan salah satu mitra utama ekspor Indonesia di sektor pertanian dan pangan dengan kontribusi yang terus tumbuh dari tahun ke tahun. Permintaan domestik China dari Indonesia juga terus tumbuh.

Pada 2025, nilai ekspor sektor pertanian ke China mencapai US$ 1,55 miliar dengan tren pertumbuhan 10,8 persen di lima tahun terakhir. Sementara nilai ekspor makanan olahan mencapai US$ 386,48 juta dengan pertumbuhan per tahun sebesar 2 persen antara 2021–2025.

Komoditas utama sektor pertanian yang mendominasi ekspor Indonesia ke China, antara lain sarang burung walet, buah-buahan, hasil perikanan, rumput laut, produk kelapa, rempah, serta kopi. Selain itu, komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya juga memainkan peran penting dalam hubungan perdagangan kedua negara. Nilai ekspor komoditas ini ke China tercatat US$ 3,29 miliar pada 2025.

Menurut dia, hubungan ekonomi Indonesia-China didorong oleh berbagai instrumen perjanjian perdagangan bebas bilateral dan regional, seperti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Pelaku usaha kedua negara diharapkan dapat memanfaatkan hasil perjanjian untuk meningkatkan perdagangan antar dua negara.

"Sebagai partner dagang yang penting bagi Indonesia dengan potensi permintaan produk pertanian mencapai US$ 31 miliar, diharapkan pelaku usaha Indonesia dapat memanfaatkan peluang pasar yang belum tergarap ini," ujarnya. 

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia Adityo Pradewo, menyampaikan, pada Januari-April 2026, sebanyak 4.077 ton durian beku telah berhasil diekspor ke China. Ke depannya, diharapkan protokol ekspor durian segar dapat segera disepakati Indonesia dan China.

Sebagai informasi, pada periode 2021–2025, total perdagangan Indonesia dan China tumbuh dengan tren positif 7,24 persen. Tahun lalu, total nilai ekspor Indonesia ke China sebesar US$ 67 miliar dan impor Indonesia dari China US$ 87,5 miliar. Sementara untuk triwulan I-2026, nilai ekspor Indonesia ke China tercatat US$ 16,9 miliar, sebaiknya impor Indonesia sebesar US$ 22,1 miliar.

 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI