Jaga Stamina, Simpan Tenaga untuk Puncak Ibadah
SinPo.id - Oleh: Muhammad Fathi Banna Al Faruqi
Sektor 1 Daker Bandara
Pertanyaan:
Aktivitas di tanah suci sangat padat dan menguras energi. Jadwal tugas padat dengan waktu tidur terbatas. Bagaimana cara menjaga stamina agar tidak drop sebelum puncak haji dan di tengah masa operasional yang masih panjang?
Jawab:
Kelelahan yang bertumpuk menurunkan kekebalan tubuh dan mengundang penyakit. Risikonya nyata:
- Penurunan daya tahan tubuh secara drastis
- Sulit fokus, sering lupa, hingga _disorientasi_ (kebingungan)
- Emosi tidak stabil dan mudah marah
Lalu bagaimana solusinya?
Baik jemaah maupun petugas harus disiplin mengelola tenaga dengan strategi berikut.
- Manfaatkan qailulah (power nap): Jika ada jeda 15–30 menit baik sebelum atau setelah dzuhur, gunakan untuk tidur sejenak. Tidur singkat namun berkualitas jauh lebih efektif memulihkan energi daripada tidur lama tapi tidak berkualitas.
- Batasi kopi dan teh: Jangan jadikan kopi/teh sebagai bahan bakar utama. Kopi dan teh bersifat _diuretik_ yang memaksa ginjal mengeluarkan cairan tubuh melalui pipis. Akibatnya, dehidrasi lebih cepat terjadi. Jika sangat membutuhkan, kopi/teh dapat dikonsumsi dengan diiringi air putih sejumlah 3x lipat. Misalnya, 1 cangkir kopi diiringi dengan 3 cangkir air putih.
- Cukupi asupan "bensin" otot: Utamakan makan tepat waktu saat makanan dan snack dibagikan. Jangan tunda dan pilah pilih makanan.
- Atur ritme pergerakan: Bagi jemaah, batasi ibadah, ziarah dan berbelanja di siang hari. Bagi petugas, jangan melakukan gerakan yang tidak perlu di bawah terik matahari. Berjalanlah dengan kecepatan stabil, jangan terburu-buru jika tidak darurat untuk menghemat pengeluaran energi tubuh.
- Dengarkan sinyal tubuh: Jika kepala terasa berat, sulit fokus, atau mulai mudah marah, itu tanda tubuh butuh istirahat. Segera cari tempat teduh, minum air, dan pejamkan mata sejenak.
- Simpan energi untuk puncak haji: Kurangi aktivitas luar ruangan yang tidak perlu. Pastikan fisik tetap prima untuk menghadapi hari-hari krusial di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Penutup
- Haji adalah ibadah fisik yang panjang. Istirahat yang cukup adalah bagian dari ikhtiar.
- Istirahat yang terencana jauh lebih efektif menjaga stamina, ketimbang memaksakan aktivitas namun berakhir tumbang, bahkan sebelum puncak ibadah haji.
- Tugas mulia melayani jemaah membutuhkan fisik yang prima. Istirahat bukan berarti malas, melainkan investasi energi agar bisa bertugas lebih lama dan optimal.
