Tips Haji

Cuaca Ekstrem di Tanah Suci, Jemaah Haji Diimbau Waspadai Heatstroke

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 18 Mei 2026 | 22:00 WIB
Petugas haji sedang melayani jemaah asal Indonesia (SinPo.id/ Dok. Kemenhaj)
Petugas haji sedang melayani jemaah asal Indonesia (SinPo.id/ Dok. Kemenhaj)

SinPo.id -  Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi yang dapat mencapai suhu 45 hingga 50 derajat Celsius menjadi tantangan serius bagi jemaah haji dan petugas selama menjalankan ibadah.

Jemaah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko heatstroke atau sengatan panas yang berpotensi fatal jika tidak ditangani dengan cepat.

Dalam Seri Kesehatan Haji #3 yang disampaikan oleh Muhammad Fathi Banna Al Faruqi dari Sektor 1 Daker Bandara, panas ekstrem di Tanah Suci disebut bukan kondisi yang bisa dianggap sepele. Tubuh yang terlalu lama terpapar suhu tinggi berisiko mengalami gangguan kesehatan serius.

“Jika kita tidak waspada, tubuh bisa mengalami heatstroke (sengatan panas) yang mematikan,” tulis Muhammad Fathi dalam edukasi kesehatan haji yang dikutip pada Senin, 18 Mei 2026.

Ia mengingatkan jemaah untuk mengenali tanda awal bahaya sebelum kondisi memburuk. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain kepala pusing berdenyut hebat, jantung berdebar sangat kencang, kulit terasa panas dan kering namun tidak berkeringat, hingga muncul rasa mual atau kram otot secara mendadak.

Jemaah juga diimbau untuk segera mencari pertolongan medis jika mulai merasakan gejala tersebut dan tidak menunggu hingga kehilangan kesadaran.

Sebagai langkah perlindungan, terdapat sejumlah strategi praktis yang dianjurkan bagi jemaah maupun petugas ketika harus berada di bawah terik matahari dalam waktu lama.

Pertama, penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti payung, topi lebar, dan kacamata hitam saat berada di luar ruangan sangat disarankan. Namun, penggunaan topi tidak diperbolehkan bagi laki-laki yang sedang berihram.

Selain itu, jemaah dianjurkan membawa botol semprot air untuk membasahi wajah dan masker guna membantu mendinginkan udara yang dihirup. Berjalan di area teduh atau bayangan gedung dan tenda juga disarankan untuk meminimalkan paparan matahari langsung.

Perlindungan pada kaki juga menjadi perhatian penting. Jemaah diingatkan agar tidak melepas alas kaki karena suhu aspal atau lantai di Arab Saudi dapat membakar telapak kaki dalam waktu singkat.

Di sisi lain, menjaga asupan cairan tubuh tidak cukup hanya dengan air putih. Dalam kondisi panas terik, jemaah dianjurkan mengonsumsi larutan elektrolit seperti oralit untuk mengganti garam tubuh yang hilang akibat penguapan.

Penggunaan sunscreen minimal SPF 50 PA++++ juga direkomendasikan sebagai perlindungan tambahan terhadap paparan sinar matahari. Tabir surya sebaiknya dioleskan 15–20 menit sebelum keluar ruangan dan diulang setiap dua jam.

Muhammad Fathi menekankan bahwa menghadapi panas ekstrem di Tanah Suci membutuhkan strategi perlindungan dari dalam maupun luar tubuh.

“Dinginkan tubuh dari dalam dengan sering minum, bukan banyak minum sekaligus, dan lindungi tubuh dari luar dengan masker basah, semprot air, topi atau payung, alas kaki, serta sunscreen,” ujarnya.

Ia menambahkan, panas di Saudi tidak dapat dilawan hanya dengan kekuatan fisik, melainkan juga melalui ikhtiar, kewaspadaan, dan doa selama menjalankan ibadah haji.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI