Lampaui Target 2026, Kemenag Sukses Kirim 2.199 Pendakwah ke Daerah 3T
SinPo.id - Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan, program pengiriman dai ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Di awal pelaksanaan jumlah dai yang dikirim masih belasan orang, kini meningkat hingga ribuan dai.
"Tahun ini jumlah dai yang kita kirim melampaui target. Dari target 1.500 dai, alhamdulillah terealisasi sebanyak 2.199 dai yang dikirim ke wilayah 3T," kata Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis M. Hanafi, dalam keterangannya, Jumat, 15 Mei 2026.
Muchlis menjelaskan, program pengiriman dai ke wilayah 3T merupakan langkah strategis dalam memperkuat pemahaman keagamaan, menanamkan nilai toleransi, serta memperkuat kehidupan sosial masyarakat di pelosok negeri. Karena, dakwah tidak boleh berhenti di wilayah perkotaan, tapi harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga pelosok negeri.
"Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan dakwah yang inklusif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ini bukan hanya tugas negara, tetapi tugas kita bersama sebagai umat," ucapnya.
Menurut Muchlis, masih terdapat masyarakat di wilayah terpencil yang belum mampu membaca Al-Qur’an dan memahami praktik ibadah dengan baik. Untuk itu, program pengiriman dai akan terus diperkuat pada tahun-tahun mendatang.
Selain penguatan pemahaman keagamaan, dakwah memiliki peran penting dalam merespons persoalan sosial di masyarakat, seperti ketahanan keluarga, kemiskinan, hingga budaya pemborosan makanan.
"Di satu sisi ada jutaan ton makanan terbuang setiap tahun, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang kesulitan makan. Ini menjadi tugas dakwah kita untuk mengedukasi masyarakat tentang etika konsumsi dalam Islam," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono mengatakan, sinergi pemerintah bersama BAZNAS dan berbagai LAZ terus diperkuat dalam program pemberdayaan umat, termasuk mendukung pengiriman dai ke wilayah 3T.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh lembaga yang telah mengirimkan dai dan mendukung program ini. Dukungan tersebut tidak hanya diberikan kepada Bimas Islam, tetapi juga kepada sektor pendidikan Islam melalui program beasiswa dan penguatan sumber daya manusia,” kata Waryono.
Menurutnya, keberadaan lembaga zakat dan filantropi semakin penting di tengah kebutuhan masyarakat di daerah terpencil yang masih memerlukan perhatian bersama.
Ia mencontohkan masih adanya masyarakat di pelosok yang menghadapi keterbatasan akses layanan dasar, termasuk kesehatan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan organisasi keagamaan dalam mendukung pembangunan masyarakat.
"Kami mendapat banyak laporan dari daerah 3T bahwa pembangunan Indonesia membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak. Karena itu kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat ke depannya," tandasnya.
