Gedung Putih Cari Cara Redam Krisis Ekonomi Akibat Perang Iran

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 15 Mei 2026 | 06:04 WIB
Ilustrasi kapal membawa minyak mentah (SinPo.id/tim media)
Ilustrasi kapal membawa minyak mentah (SinPo.id/tim media)

SinPo.id -  Gedung Putih dilaporkan tengah panik menghadapi krisis ekonomi yang dipicu oleh perang Donald Trump dengan Iran. Lonjakan harga bensin dan inflasi membuat pemerintah bergegas mencari langkah cepat untuk menunjukkan kepedulian terhadap konsumen.

Seorang penasihat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters, “Kami menjadikan harga bensin sebagai Achilles’ heel Biden, dan kini justru menjadi kelemahan kami sendiri.”

Dampak Ekonomi

Harga rata-rata bensin nasional sudah menembus USD 4,50 per galon, dengan tujuh negara bagian mencatat harga di atas USD 5 per galon.

Inflasi naik ke 3,8 persen pada April 2026, tertinggi dalam hampir tiga tahun.

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan lebih dari 60 persen warga AS merasa harga bensin yang tinggi telah membebani keuangan rumah tangga mereka.

Penurunan Dukungan Publik

Polling CNN/SSRS mencatat tingkat persetujuan Trump atas ekonomi anjlok ke -40, terburuk sepanjang masa kepemimpinannya.

Survei Reuters/Ipsos pada akhir April menunjukkan hanya 25 persen warga AS yang menilai perang dengan Iran layak dijalankan, sementara 53 persen menolak.

Bahkan di kalangan Republikan, satu dari lima responden menilai perang tidak sepadan dengan biayanya.

Langkah Darurat

Trump sempat mendukung wacana penghapusan pajak federal bensin, yang bisa menurunkan harga sekitar 18 sen per galon. Namun, pimpinan Partai Republik belum sepenuhnya mendukung langkah tersebut.

Ketika ditanya apakah kesulitan finansial rakyat memengaruhi kebijakan perang Iran, Trump menjawab singkat: “Not even a little bit.”

Krisis ini menambah tekanan politik bagi Gedung Putih, yang kini harus mencari cara untuk menenangkan publik sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah konflik internasional.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI