Trump Jalani 24 Jam di China, Publik Bertanya-Tanya Mengapa Begitu Diam

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 15 Mei 2026 | 05:59 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah menikmati kunjungan kenegaraan di China, namun yang paling mencuri perhatian bukan hanya jamuan mewah dan sambutan meriah, melainkan sikapnya yang jauh lebih tenang dari biasanya. Dalam 24 jam terakhir, Trump nyaris tidak menimbulkan kontroversi maupun ledakan komentar di media sosial.

Biasanya, Trump aktif di Truth Social dengan puluhan unggahan setiap malam. Namun sejak berangkat dari Anchorage, Alaska, pada Selasa 13 Mei 2026, aktivitas daringnya mendadak berhenti. Hal ini diduga karena alasan keamanan: perangkat pribadinya ditahan agar tidak diretas selama berada di China, negara yang dikenal ketat dengan sistem sensor digital. Truth Social sendiri telah diblokir di China sejak 2022.

Agenda Trump di Beijing

Trump menghadiri jamuan kenegaraan bersama Presiden Xi Jinping, lengkap dengan karpet merah dan sorakan pelajar yang membawa bendera AS dan China.

Xi menekankan pentingnya hubungan bilateral, menyebut AS dan China harus menjadi mitra, bukan rival.

Trump, yang biasanya dikenal dengan komentar spontan, kali ini tampil lebih terkendali dan fokus pada tujuan diplomatik kunjungan.

Sorotan Publik

Video resmi Gedung Putih menampilkan kedatangan Trump dengan gaya sinematik, lengkap dengan slow motion saat menuruni tangga Air Force One.

Publik menilai gaya penyajian video tersebut terasa janggal, mengingat sikap keras sebagian basis politik Trump terhadap China.

Diamnya Trump di media sosial membuat banyak pihak berspekulasi bahwa ia sedang “dikendalikan” oleh protokol keamanan, atau sekadar menikmati pujian dan kemewahan yang menyertainya.

Trump dijadwalkan kembali ke Washington pada Sabtu 16 Mei 2026. Banyak pihak memperkirakan ia akan segera kembali aktif di media sosial dengan komentar keras, terutama terkait isu Taiwan dan hubungan dagang AS–China.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI