Menkes Pastikan Penanganan Kasus Kontak Erat Hantavirus di Jakarta Terkendali
SinPo.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan pemerintah terus memantau secara ketat penanganan kasus kontak erat Hantavirus yang ditemukan di DKI Jakarta. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas kesehatan masyarakat menyusul laporan kasus yang melibatkan perjalanan internasional.
Budi menegaskan meski virus ini mematikan, masyarakat tidak perlu panik berlebihan karena pola penularannya berbeda dengan Covid-19. “99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antar-manusia,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis 14 Mei 2026
Kasus ini pertama kali teridentifikasi setelah pemerintah menerima informasi dari otoritas kesehatan Inggris pada 7 Mei 2026 mengenai seorang WNA yang diduga terpapar Hantavirus di kapal luar negeri. Pasien segera dievakuasi ke RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso pada 8 Mei untuk menjalani isolasi penuh.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap seluruh kontak erat pasien menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, pemerintah tetap mewajibkan pasien menjalani isolasi selama masa inkubasi dua minggu sebagai langkah preventif ekstra.
Menkes menjelaskan varian Hantavirus yang dipantau di Indonesia termasuk kategori varian Asia, dengan tingkat kematian 5–15 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan varian Andes di Amerika Selatan yang dapat menyebabkan sindrom paru-paru (HPS) dengan risiko kematian 50–60 persen.
Plt Dirjen P2 Kemenkes, Andi Saguni, menambahkan pemilihan RSPI Saroso bertujuan agar penanganan dilakukan secara terfokus oleh tenaga ahli infeksi. Hingga kini, terapi simtomatis dan suportif menjadi metode utama karena belum ada obat spesifik maupun vaksin untuk Hantavirus.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang, menjaga kebersihan lingkungan, dan mencegah perkembangbiakan tikus di rumah maupun tempat usaha sebagai langkah utama pencegahan.
