Matangkan Layanan Armuzna, Konsumsi hingga Transportasi Jemaah Haji Dipastikan Siap

Laporan: Tio Pirnando
Senin, 11 Mei 2026 | 22:16 WIB
jemaah haji asal Indonesia di tanah suci. (SinPo.id/dok. Kemenhaj)
jemaah haji asal Indonesia di tanah suci. (SinPo.id/dok. Kemenhaj)

SinPo.id - Kementerian Haji dan Umrah RI bersama otoritas Arab Saudi terus mematangkan persiapan layanan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Fokus utama diarahkan pada kesiapan konsumsi, transportasi, akomodasi, hingga pengamanan mobilitas jemaah agar seluruh rangkaian ibadah berjalan aman dan tertib.

Staf Teknis Kementerian Urusan Haji Arab Saudi, Muhammad Ilham Effendy, mengatakan, tantangan layanan Armuzna selalu menjadi fase paling kompleks dalam operasional haji. Karena melibatkan jutaan jemaah dalam waktu yang hampir bersamaan.

"Yang paling penting bagaimana seluruh jemaah tetap terpenuhi kebutuhannya, terutama konsumsi, karena dinamika di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sangat berbeda dibanding fase biasa," kata Ilham, Senin, 11 Mei 2026.

Menurut dia, koordinasi intensif terus dilakukan bersama tim konsumsi dan para penyedia layanan agar distribusi makanan bagi jemaah tetap aman sejak keberangkatan menuju Arafah pada 8 Zulhijah, pelaksanaan wukuf 9 Zulhijah, hingga fase mabit dan lontar jumrah pada 12 dan 13 Zulhijah.

"Kami ingin memastikan selama fase Armuzna seluruh konsumsi jemaah tetap aman dan terdistribusi dengan baik," katanya.

Selain konsumsi, pemerintah juga melakukan pengawasan terhadap kesiapan akomodasi sesuai kontrak yang telah disepakati dengan penyedia layanan di Arab Saudi. Mulai dari kapasitas kamar hingga fasilitas penunjang lainnya.

Ilham menjelaskan, layanan transportasi di Makkah memiliki tantangan lebih besar dibanding Madinah. Jika di Madinah mayoritas hotel berada di kawasan markaziyah yang relatif dekat dengan Masjid Nabawi, maka di Makkah banyak jemaah harus menggunakan Bus Shalawat dengan waktu tempuh sekitar 15 hingga 30 menit menuju Masjidil Haram.

Karena itu, pengerahan petugas dilakukan lebih masif untuk memastikan jemaah tidak tersasar saat berangkat maupun kembali ke hotel.

"Petugas akan mengawal dan mengarahkan jemaah agar tidak salah naik bus. Di sekitar Masjidil Haram ada beberapa terminal dan titik pemberhentian seperti Ajyad, Jabal Ka’bah, hingga Syib Amir, sehingga jemaah harus benar-benar mengenali simbol dan rute busnya," tuturnya. 

Menurut dia, petugas sektor khusus dan layanan transportasi disiagakan penuh di sekitar terminal bus dan kawasan Masjidil Haram untuk membantu jemaah menemukan jalur pulang sesuai sektor dan hotel masing-masing.

Ia mengatakan, simbol dan penanda khusus telah disiapkan untuk memudahkan identifikasi rute setiap sektor pemondokan jemaah Indonesia.

Di tengah berbagai persiapan tersebut, Ilham mengakui penyelenggaraan haji selalu menghadapi tantangan baru setiap tahun karena adanya perubahan kebijakan dari otoritas Saudi yang harus segera direspons secara cepat oleh petugas di lapangan.

"Tantangan haji itu selalu dinamis. Hampir setiap tahun ada perubahan kebijakan dan kita harus cepat mencari solusi agar layanan kepada jemaah tetap berjalan baik," katanya.

Dia menambahkan, tantangan pelayanan haji juga semakin besar seiring meningkatnya usia rata-rata jemaah Indonesia akibat panjangnya masa tunggu keberangkatan. Banyak jemaah baru bisa berangkat setelah menunggu puluhan tahun sehingga kondisi fisik dan kesehatan menjadi perhatian utama pemerintah.

"Konsekuensinya, usia jemaah semakin lanjut dan kondisi kesehatannya juga semakin rentan. Itu sebabnya pelayanan ramah lansia dan penguatan kesiapan kesehatan menjadi perhatian penting tahun ini," ujar Ilham.

Pemerintah berharap seluruh persiapan Armuzna dapat berjalan optimal sehingga jemaah Indonesia dapat menjalankan wukuf dan rangkaian puncak ibadah haji dengan aman, nyaman, dan khusyuk. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI