Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Perry Warjiyo Ungkap Faktor Global dan Musiman

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 06 Mei 2026 | 00:44 WIB
Ilustrasi. (SinPo.id/AFP)
Ilustrasi. (SinPo.id/AFP)

SinPo.id -  Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat.

Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 5 Mei 2026, Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

“Dalam jangka pendek ini ada tekanan nilai tukar, disebabkan faktor global dan faktor musiman,” ujarnya.

Dari sisi global, tekanan datang dari tingginya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, serta penguatan dolar AS. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai sekitar 4,47 persen turut mendorong aliran keluar modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Terjadi pelarian modal dari emerging market, termasuk Indonesia,” jelas Perry.

Sementara itu, faktor domestik dipengaruhi oleh peningkatan permintaan dolar AS yang bersifat musiman, terutama pada periode April hingga Juni. Kebutuhan tersebut mencakup pembayaran repatriasi dividen, pelunasan utang luar negeri, serta kebutuhan devisa untuk jemaah haji.

“April, Mei, Juni ini permintaan dolar memang tinggi,” tambahnya.

Meski demikian, Perry menegaskan bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen, inflasi rendah, pertumbuhan kredit yang solid, serta cadangan devisa yang memadai.

“Fundamental kita kuat, sehingga rupiah seharusnya stabil dan cenderung menguat ke depan,” tegasnya.

Pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026), rupiah tercatat melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp17.424 per dolar AS. Sejak awal meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, BI mencatat rupiah telah melemah sekitar 3,65 persen.

Pelemahan ini juga terjadi di sejumlah mata uang negara berkembang lainnya, seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, peso Chile, hingga won Korea Selatan.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus mengoptimalkan berbagai instrumen pasar valuta asing, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan langkah tersebut dilakukan secara konsisten guna menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI