Manufaktur Digenjot, Pemerintah Siapkan Insentif Kendaraan Listrik untuk Perkuat Industri
SinPo.id - Pemerintah mempertegas arah kebijakan ekonomi dengan menempatkan sektor manufaktur sebagai penopang utama pertumbuhan, sembari memperluas penggunaan insentif kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi stimulus industri nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut sektor manufaktur tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi, tetapi juga menunjukkan kinerja yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun terakhir.
“Bagaimana caranya sektor manufaktur bisa lebih membantu, lebih memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional… sektor manufaktur merupakan tulang punggung dari perekonomian,” ujar Agus, Selasa, 5 Mei 2026.
Dia menuturkan, kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto terus meningkat, bahkan mencatatkan pertumbuhan yang dalam satu dekade lebih tidak pernah melampaui laju ekonomi nasional.
Menurut Agus, pemerintah bersama Kementerian Keuangan kini tengah membahas berbagai hambatan industri serta merumuskan kebijakan stimulus dan insentif untuk mempercepat laju pertumbuhan sektor tersebut.
Fokusnya, kata dia, tidak hanya memperkuat ekspor, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan pasar domestik yang menyerap sekitar 80 persen output industri manufaktur.
“Jadi kita tadi intinya memang membahas apa saja policy, langkah-langkah yang perlu kita ambil agar pertumbuhan manufaktur yang akan menopang pertumbuhan ekonomi itu bisa berjalan lebih baik dan lebih cepat,” ujarnya.
Di tengah pembahasan tersebut, kata Agus, insentif kendaraan listrik disebut menjadi salah satu instrumen yang semakin relevan dalam desain kebijakan industri.
Dia menilai kebijakan ini tidak lagi semata berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga efisiensi energi dan penguatan struktur industri dalam negeri.
“Soal insentif, kita sudah bicara salah satunya juga soal insentif sebagai stimulus. Kalau pemerintah memberikan insentif untuk motor atau mobil listrik, ini semakin relevan,” kata Agus.
Agus menjelaskan, insentif kendaraan listrik kini diposisikan dalam kerangka yang lebih luas: mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, menekan beban subsidi energi, sekaligus melindungi tenaga kerja melalui penguatan industri otomotif nasional berbasis teknologi baru.
“Sekarang ada yang lebih penting dari itu, agar kita lebih banyak mengurangi penggunaan BBM dan yang tidak kalah penting, insentif itu harus dalam rangka memperkuat industri kita sehingga tenaga kerja kita bisa terlindung,” tandasnya.

