Tembok Pembatas Tol Depan DPR Disulap Jadi Ruang Ekspresi Massa May Day

Laporan: Tio Pirnando
Jumat, 01 Mei 2026 | 18:09 WIB
Para buruh berunjuk rasa depan Gedung DPR. (SinPo.id/Tio)
Para buruh berunjuk rasa depan Gedung DPR. (SinPo.id/Tio)

SinPo.id - Sejumlah barikade beton hingga tembok pembatas jalan tol yang berdiri kokoh di pintu masuk utama gedung DPR, "disulap" oleh massa aksi peringatan Hari Buruh Internasional alias May Day menjadi ruang ekspresi untuk menyampaikan aspirasi. 

Pantauan SinPo.id dilokasi, Jumat, 1 Mei 2026, tembok alias dinding pembatas tol dalam kota dengan jalan Gatot Subroto (Gatsu), menjadi wahana bagi kreativitas massa dengan melakukan vandalisme. Beragam keresahan mereka tuangkan di pembatas dinding tol itu. 

Coretan-coretan hitam memakai pilox (cet semprot) hingga poster kecil bertuliskan kritik berjejer sepanjang tembok hingga ke titik gerbang utama DPR/MPR, tempat berkumpulnya mobil-mobil komando yang di atasnya, bergiliran pimpinan massa aksi berorasi. Hal ini menandakan aspirasi dalam peringatan May Day 2026 tak hanya disampaikan melalui saling sahut tegangnya urat leher, namun juga dalam bahasa tulisan yang diam kadang kala mengena pembaca. 

Seperti tulisan "Silence=Death" yang mengingatkan agar tidak diam melihat keadaan. Sebab, diam sama saja dengan mati. Disampingnya muncul pesan "Kebebasan untuk mereka yang melawan". 

Di sudut berikutnya, ada tulisan ucapan "Selamat Hari Buruh Cari Nafkah Jadi Duka" yang menegaskan isu utama kaum pekerjaan muara utamanya soal nafkah. Namun, dalam mencari sesuap nasi untuk keluarga tidak jarang berujung duka. 

Sekelompok mahasiswa yang duduk melingkar di bawah tulisan tersebut, terlihat sedang berdiskusi. Tepat di atas kepala mereka ada sebuah kritik bertulis "Lawan Ilusi Kontrol dan Kapitalis". 

Massa dari penggemar sepak bola turut mengingatkan bahwa mereka juga buruh, "Sepak Bola Olahraga Kelas Pekerja". Di tengah aksi, mereka tampak bermain bola menggunakan gawang kecil. 

Beragam aspirasi ini jika dilihat seksama, sangat menarik dan mengelitik. Suara-suara tentang buruh memang kerap soal upah maupun perlindungan keamanan. Itu tidak luput diluapkan oleh massa aksi melalui ekspresi yang ditempel berderet di sebuah spanduk. 

Lihat saja tulisan kocak "Gaji kok dicicil, emangnya KPR?" bersanding dengan satire "Dirayainya Sehari Sisanya Diatur Oligarki" dan "Cukup jemuran yang digantung, status kerja jangan" ada juga "Cari kerja susah eeee.. Pas dapat kerja malah diupah murah." 

Selain buruh kasar, para wartawan yang biasa meliput juga terlihat menyuarakan aspirasi melalui poster yang ditempel di beton tol dalam kota. Lihat tulisan "Jurnalis juga buruh", disamping kiri kanannya terpampang poster bertulis "Berita harus transparan, sistem kerja malah blur" dan "Pidanakan perusahaan yang lakukan Union Busting". 

Teknologi akal imitasi (AI) yang disebut akan menggantikan tugas juru ketik, hingga kuatnya intervensi pemilik media terhadap kerja jurnalistik, juga tak luput dari kritikan.

 Dalam sebuah poster berwarna pink tertulis "Jurnalis dihimpit AI, disrupsi informasi dan pemilik media", disampingnya ada sebuah pengingat "dunia kerja yang aman dan sehat adalah hak pekerja media". Tuntunan kerja dengan gaji yang kadang telat, juga turut dikeluhkan "Deadline jalan terus, gaji sering plot twist", dan "Kerjanya diminta maksimal, upahnya standar minimal aja belom". Dan terakhir, kritikan pamungkas dalam May Day 2026 adalah coretan di dinding beton bertulis "Capitalism Kill Love". 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI