USS Gerald R. Ford Tinggalkan Timur Tengah, Kekuatan Militer AS Berkurang di Tengah Perang Iran

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 30 April 2026 | 05:00 WIB
USS Gerald R Ford (Anadolu/Getty Image)
USS Gerald R Ford (Anadolu/Getty Image)

SinPo.id -  Amerika Serikat akan kehilangan salah satu aset militernya di kawasan Timur Tengah. Kapal induk USS Gerald R. Ford, yang telah bertugas selama 10 bulan, dipastikan segera berlayar pulang dalam beberapa hari mendatang. Keputusan ini menjadi kabar lega bagi sekitar 4.500 pelaut yang telah lama bertugas, namun sekaligus mengurangi daya tembak AS di tengah mandeknya perundingan damai dengan Iran.

Ford merupakan salah satu dari tiga kapal induk yang dikerahkan di kawasan, bersama USS George H.W. Bush dan USS Abraham Lincoln. Ketiganya berperan dalam mendukung blokade laut AS terhadap kapal-kapal yang membawa minyak dan barang dari pelabuhan Iran.

Menurut pejabat AS, Ford kemungkinan tiba kembali di Virginia pada pertengahan Mei. Hingga Rabu (29/4/2026), kapal ini telah mencatat rekor 309 hari beroperasi di laut, terlama bagi kapal induk modern. Masa tugas panjang itu membuat Ford mengalami sejumlah masalah teknis, termasuk kebakaran di ruang laundry yang melukai beberapa pelaut, serta gangguan berulang pada sistem toilet. Setibanya di pelabuhan, Ford akan menjalani perbaikan besar dan pemeliharaan intensif.

Keputusan memperpanjang masa tugas Ford sempat dipertanyakan anggota Kongres AS. Mereka menilai hal itu bisa berdampak pada kesiapan kapal perang lain karena kapasitas galangan perawatan terbatas. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menjelaskan bahwa keputusan sulit tersebut diambil melalui konsultasi dengan Angkatan Laut.

Ford, kapal induk terbaru milik AS, sebelumnya sempat dikerahkan ke Eropa, Karibia, hingga akhirnya ke Timur Tengah untuk mendukung operasi perang melawan Iran. Dalam blokade di Laut Arab, Angkatan Laut AS telah memeriksa dan menahan puluhan kapal untuk mencegah ekspor minyak Iran.

Blokade laut saat ini menjadi sumber utama tekanan militer AS terhadap Teheran, seiring upaya pemerintahan Trump memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan program nuklirnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI