Agrovoltaic dan Solar Grazing Dorong Ekonomi Terpadu

Laporan: Tio Pirnando
Selasa, 28 April 2026 | 19:14 WIB
CEO PT Gema Aset Solusindo, Syam Basrijal (SinPo.id/ Dok. Pribadi)
CEO PT Gema Aset Solusindo, Syam Basrijal (SinPo.id/ Dok. Pribadi)

SinPo.id - Konsep integrasi antara energi dan sektor pangan dinilai menjadi arah baru dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia. CEO PT Gema Aset Solusindo, Syam Basrijal menegaskan, pendekatan seperti agrovoltaic dan solar grazing tidak seharusnya dilihat sebagai inovasi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung.

Menurut Syam, jika kedua konsep tersebut ditempatkan dalam satu kerangka sistemik, maka yang terbentuk bukan sekadar solusi teknis, tetapi sebuah arsitektur ekonomi baru berbasis integrasi ruang. Ia menyebut bahwa kebijakan energi nasional, termasuk target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 GW, harus dipahami sebagai momentum untuk merancang ulang pengelolaan ruang dan produksi.

"Jika agrovoltaic dan solar grazing dibaca sebagai inovasi terpisah, maka kita hanya melihat sebagian kecil dari gambaran besar. Namun ketika keduanya ditempatkan dalam satu kerangka sistemik, yang muncul bukan sekadar solusi teknis, melainkan arsitektur ekonomi baru berbasis ruang terintegrasi, " kata Syam dalam keterangannya, Selasa, 27 April 2026. 

Syam menjelaskan, target 100 GW PLTS berpotensi membutuhkan lahan hingga 1–1,5 juta hektare apabila menggunakan pendekatan konvensional berbasis ground-mounted. Angka tersebut dinilai akan beririsan langsung dengan lahan produktif, termasuk sektor pertanian yang saat ini telah dilindungi melalui kebijakan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas sekitar 6,39 juta hektare.

Dia menilai, jika pembangunan tetap menggunakan pendekatan monofungsi, maka konflik pemanfaatan ruang tidak dapat dihindari. Namun, ia melihat peluang besar jika pendekatan diubah menjadi integrasi sistem.

Ia menuturkan bahwa kebutuhan lahan PLTS dapat dialihkan sebagian ke rooftop, floating solar, kawasan industri, dan lahan bekas (brownfield). Sementara itu, integrasi dengan sektor pertanian dapat dilakukan melalui agrovoltaic yang diperkuat dengan solar grazing, sehingga satu lahan mampu menghasilkan berbagai output sekaligus.

“Dengan pendekatan ini, satu hektare lahan tidak lagi dihitung sebagai satu fungsi, tetapi sebagai sistem produksi berlapis: energi, pangan, dan peternakan dalam satu kesatuan,” katanya.

Dalam perspektif bisnis, model ini disebut sebagai lompatan paradigma. Syam mengungkapkan bahwa pendekatan terintegrasi memungkinkan terciptanya lebih dari satu sumber pendapatan dalam satu lahan, berbeda dengan model konvensional yang hanya menghasilkan satu arus pendapatan.

Ia merujuk pada studi internasional yang menunjukkan bahwa agrivoltaics mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan melalui land equivalent ratio di atas 1. Selain itu, penerapan solar grazing dinilai mampu menekan biaya operasional sekaligus menambah nilai ekonomi dari sektor peternakan.

“Jika ketiga lapisan ini disatukan, maka yang terbentuk bukan sekadar diversifikasi, tetapi sistem produksi dengan efisiensi dan ketahanan yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, integrasi ini dinilai memiliki dampak signifikan. Dalam RUPTL 2025–2034, investasi pembangkit diproyeksikan mencapai lebih dari Rp2.100 triliun, dengan PLTS sebagai salah satu kontributor utama. Syam menilai, jika sebagian investasi tersebut diarahkan ke model terintegrasi, maka nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berasal dari listrik, tetapi juga dari sektor pangan dan peternakan.

Ia menambahkan bahwa dampak berganda (multiplier effect) dari model ini berpotensi langsung dirasakan oleh sektor pertanian, peternakan, hingga ekonomi desa.

Namun demikian, Syam menekankan bahwa keberhasilan model ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut bahwa ekosistem energi–pangan terpadu tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai aktor, mulai dari pengembang energi, petani, peternak, lembaga keuangan, hingga pemerintah.

“Perusahaan seperti PT Gema Aset Solusindo tidak lagi berfungsi sebagai pelaku tunggal, tetapi sebagai platform integrasi—menghubungkan semua komponen dalam satu arsitektur nilai yang koheren,” katanya.

Dari sisi pembiayaan, pendekatan ini juga dinilai mengubah cara penilaian proyek energi. Syam menjelaskan bahwa kelayakan proyek tidak lagi hanya bergantung pada internal rate of return (IRR) listrik, tetapi juga pada total nilai ekonomi yang dihasilkan dari kombinasi sektor energi, pertanian, dan peternakan.

Hal ini membuka peluang bagi skema pembiayaan baru seperti green financing, blended finance, hingga impact investment yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Lebih jauh, Syam menilai bahwa integrasi energi dan pangan memiliki implikasi strategis terhadap ketahanan nasional. Ia menjelaskan bahwa ketika ketiga sektor tersebut dibangun dalam satu sistem, maka ketahanan tidak lagi bergantung pada sektor tunggal, melainkan pada interaksi yang saling menguatkan.

“Ini adalah bentuk pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa implementasi konsep ini membutuhkan perencanaan yang matang dan presisi. Beberapa hal yang diperlukan antara lain peta spasial nasional yang terintegrasi, regulasi yang adaptif terhadap konsep penggunaan ganda lahan, standar teknis yang menjaga produktivitas, serta model kemitraan yang adil bagi masyarakat.

Pada akhirnya, Syam menegaskan bahwa target 100 GW PLTS bukan sekadar tantangan teknis, tetapi juga ujian dalam merancang sistem pembangunan yang lebih matang.

“Jika kita tetap menggunakan pendekatan lama, maka angka sebesar itu akan memperbesar konflik ruang. Tetapi jika kita berani membangun arsitektur integrasi, maka angka yang sama justru menjadi katalis bagi lahirnya model ekonomi baru yang lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih adil,” ujarnya.

Ia pun menutup dengan penekanan bahwa masa depan pembangunan tidak hanya soal peningkatan kapasitas energi, tetapi tentang bagaimana menciptakan keseimbangan antara energi, pangan, dan kehidupan.

“Dan di titik itu, pertanyaannya tidak lagi tentang bagaimana kita membangun lebih banyak energi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu menampung energi, pangan, dan kehidupan dalam satu keseimbangan yang utuh," tukasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI