Kekerasan Berulang di Daycare, AnggotaDPR Sebut Negara Tak Boleh Lalai

Laporan: Galuh Ratnatika
Senin, 27 April 2026 | 09:41 WIB
Daycare Little Aresha Yogyakarta (SinPo.id/dok.Instagram)
Daycare Little Aresha Yogyakarta (SinPo.id/dok.Instagram)

SinPo.id - Anggota DPR RI Eva Monalisa, menyoroti berulangnya kasus kekerasan terhadap anak yang dititipkan di daycare. Termasuk kasus kekerasan yang baru saja terjadi pada 53 anak di daycare Little Aresha, di Yogyakarta. 

“Ini bukan lagi sekadar kelalaian, tetapi indikasi kegagalan sistem perlindungan anak yang serius dan berulang,” kata Eva, dalam keterangan persnya, Senin, 27 April 2026.

Menurutnya, kasus kekerasan tersebut merupakan bentuk pelanggaran berat terhadap hak anak yang tidak bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun. Sehingga negara tidak boleh kalah oleh kelalaian pengawasan.

Terlebih sebelumnya, kasus kekerasan serupa juga pernah terjadi di Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada 2024 lalu, di mana seorang balita disiram air panas oleh pengasuhnya.

“Jika kasus serupa terus berulang dari Depok hingga Yogyakarta, maka jelas ada yang salah dalam sistem pengawasan daycare di Indonesia,” ungkapnya.

Dengan jumlah korban yang mencapai puluhan, persoalan tersebut menunjukkan adanya kegagalan kolektif, baik pengelola, pengawas, maupun regulasi.

Oleh sebab itu, Eva mendesak pemerintah untuk segera melakukan audit nasional seluruh daycare di Indonesia, dan menerapkan standar ketat pengasuh dan operasional daycare, termasuk memberlakukan pengawasan real-time melalui adanya CCTV transparan untuk orang tua.

Ia pun mendorong adanya penjatuhan sanksi maksimal tanpa kompromi kepada pelaku dan pengelola, serta membentuk sistem pengaduan cepat dan responsif di seluruh daerah.

"Negara harus hadir dengan regulasi ketat, pengawasan nyata, dan sanksi tanpa kompromi. Kita lihat bagaimana daycare little aresha ini tidak mengantongi izin,” tegasnya.

“Kejadian ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar berita sesaat. Jika negara gagal melindungi anak di ruang yang seharusnya paling aman, maka kita sedang menghadapi krisis perlindungan anak yang nyata,” kata Eva menambahkan.

 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI