China’s Satelit Komersial Jadi Sorotan, Guncang Privasi Militer di Tengah Konflik Iran
SinPo.id - Kemajuan industri satelit penginderaan jauh (Earth Observation/EO) China kini menimbulkan kekhawatiran baru terkait kerahasiaan militer global. Perusahaan satelit komersial asal China, termasuk Chang Guang Satellite Technology (CGST), semakin menancapkan pengaruhnya dengan kemampuan citra resolusi tinggi yang menyaingi penyedia asal Amerika Serikat.
Dalam konflik Iran, citra satelit buatan China banyak dipublikasikan, memperlihatkan bagaimana teknologi ini mampu memantau lokasi hingga beberapa kali sehari dengan detail objek sekecil kendaraan. Data U.S. Geological Survey menunjukkan jumlah satelit EO China kini hanya kalah dari Amerika Serikat.
CGST, yang berbasis di Jilin, mengoperasikan konstelasi satelit terbesar dari sektor swasta China. Meski berstatus komersial, perusahaan ini memiliki keterkaitan dengan pemerintah, termasuk kepemilikan saham sebesar 28 persen. CGST pernah menjual satelit kepada Wagner Group pada 2022 dan disebut menjalin kerja sama dengan Earth Eye untuk memasok satelit ke Iran pada 2024. Transaksi tersebut memicu sanksi dari AS, Uni Eropa, Jepang, dan Taiwan.
Kualitas citra satelit China kini mencapai resolusi sub-meter, memungkinkan pemantauan objek berukuran mobil dari orbit tinggi. Hal ini membuatnya diminati oleh klien militer maupun komersial, sekaligus menimbulkan kekhawatiran eskalasi geopolitik.
“China sangat terbuka menawarkan layanan citra satelit ke berbagai negara, seringkali dikaitkan dengan Belt and Road Initiative,” ujar Lincoln Hines, peneliti kebijakan luar angkasa di Georgia Institute of Technology. Namun, penjualan ke entitas militer Rusia dan Iran menunjukkan kaburnya batas antara kepentingan komersial dan strategi negara.
Para analis menilai, dominasi satelit komersial China dapat memperbesar risiko eskalasi konflik, karena data yang dihasilkan bisa digunakan untuk tujuan militer sekaligus mempersempit ruang kerahasiaan pertahanan negara lain.
