Eskalasi Geopolitik Mengkhawatirkan, Amelia Dorong Pemerintah Perkuat Diplomasi Preventif
SinPo.id - Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini mendorong pemerintah untuk memperkuat diplomasi preventif melalui jalur bilateral maupun multilateral dalam menyikapi eskalasi geopolitik yang kian mengkhawatirkan, khususnya di Selat Hormuz.
Sejauh ini ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel vs Iran semakin panas, bahkan berujung pada saling blokade di Selat Hormuz hingga mengganggu jalur internasional, terutama distribusi energi global.
Menurut Amelia, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah yang terukur, berbasis prinsip politik luar negeri bebas aktif. Terpenting, mengedepankan kepentingan nasional.
"Indonesia pelu memperkuat diplomasi preventif melalui jalur bilateral maupun multilateral, termasuk mendorong de-eskalasi antara pihak-pihak yang berkonflik seperti Iran dan negara-negara barat, guna mencegah konflik terbuka yang dapat mengganggu stabilitas kawasan," kata Amelia saat dihubungi SinPo.id, Jakarta, Jumat, 24 April 2026.
Legislator dari Fraksi Partai NasDem ini mengingatkan bila Selat Hormuz merupakan salah satu choke point paling vital di dunia yang dilintasi sekitar sepertiga perdagangan minyak global.
Sehingga, kata Amelia, setiap instabilitas di kawasan tersebut tidak hanya berdampak regional, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan energi negara-negara pengguna, khususnya Indonesia.
"Hemat saya, Indonesia perlu memanfaatkan posisinya di berbagai forum internasional sebagai credible middle power yang konsisten mengedepankan perdamaian," katanya.
Selain itu, Wakil Rakyat dari Dapil Jawa Tengah (Jateng) VII ini juga mendorong pemerintag agar meningkatkan kesiapsiagaan perlindungan warga negara Indonesia (WNI) dan aset nasional di kawasan Timur Tengah. Termasuk, skenario evakuasi darurat jika situasi memburuk.
"Sebagai Anggota Komisi I DPR RI, saya mendorong pemerintah untuk peningkatan kapasitas diplomasi pertahanan (defense diplomacy), termasuk confidence-building measures dengan negara-negara kawasan, guna mempertegas posisi Indonesia sebagai stabilizer, bukan partisan actor," kata dia.
Di samping dari itu, Ketua DPP Partai NasDem bidang Perempuan dan Anak ini mengungkapkan dalam situasi global yang semakin terfragmentasi, terdapat urgensi bagi Indonesia untuk kembali memainkan peran historisnya sebagai motor perdamaian dunia.
Bagi Amelia, semangat yang pernah diwujudkan dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 perlu direaktualisasi dalam konteks kekinian bukan sekadar simbolik, tetapi melalui inisiatif konkret seperti mediasi, fasilitasi dialog, hingga penguatan norma internasional berbasis hukum.
Amelia mengatakan langkah-langkah ini hukan hanya pilihan strategis tetapi juga konsistensi terhadap amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
"Dengan demikian, sikap yang harus diambil Indonesia bukan sekadar reaktif, melainkan proaktif dengan menjaga jarak dari konflik, memperkuat ketahanan nasional, dan secara simultan mengartikulasikan kepemimpinan moral dalam mendorong perdamaian global," katanya.
