BPBD DKI Petakan Daerah Rawan Longsor di Jakarta

Laporan: Sigit Nuryadin
Kamis, 23 April 2026 | 20:52 WIB
Ilustrasi daerah lawan longsor (SinPo.id/ Pixabay)
Ilustrasi daerah lawan longsor (SinPo.id/ Pixabay)

SinPo.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menekankan peran lurah sebagai garda terdepan dalam penanganan potensi longsor di wilayah rawan, menyusul pemetaan terbaru di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur menjelang musim hujan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, mengatakan penguatan kewenangan di tingkat kelurahan menjadi kunci percepatan respons saat bencana terjadi.

“Dalam kondisi bencana, dibutuhkan respons cepat. Lurah memiliki otorisasi untuk langsung berkoordinasi dengan SKPD maupun UKPD,” kata Yohan, Kamis, 23 April 2026.

Dia menjelaskan, BPBD DKI telah melakukan pemetaan wilayah rawan longsor melalui kegiatan susur sungai, terutama di aliran Sungai Ciliwung. 

"Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi titik-titik rentan sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah setempat," ungkap dia. 

Menurut Yohan, kejadian longsor di kawasan Kebon Baru sebelumnya turut mengubah sikap sebagian warga yang semula menolak relokasi. 

“Kini mereka mulai bersedia dipindahkan demi keselamatan,” ujar Yohan. 

Selain koordinasi lintas instansi, kata dia, BPBD juga menggandeng Dinas Sumber Daya Air untuk penanganan teknis, seperti pemasangan penahan tanah sementara. 

Adapun usulan pembangunan turap permanen akan dibahas melalui forum perencanaan daerah, dengan melibatkan pemerintah pusat.

Yohan menuturkan, kewenangan pembangunan fisik tidak sepenuhnya berada di pemerintah daerah. 

"Sejumlah proyek juga menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane," tuturnya. 

Berdasarkan prakiraan April 2026, sejumlah wilayah di Jakarta masuk kategori zona menengah potensi gerakan tanah. Di Jakarta Selatan, area tersebut mencakup Cilandak, Jagakarsa, hingga Pasar Minggu, sementara di Jakarta Timur meliputi Kramatjati dan Pasar Rebo.

"Pada zona ini, potensi longsor meningkat jika curah hujan berada di atas normal, terutama di sekitar tebing dan bantaran sungai," ucap Yohan. 

Yohan pun mengimbau aparat wilayah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. “Antisipasi perlu dilakukan sejak dini agar dampak bencana dapat diminimalkan,” tandasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI