Trump Guncang Diplomasi Nuklir Iran Usai Meltdown dengan Jenderal Top
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan kesepakatan baru dengan Iran yang memungkinkan negara itu kembali melakukan pengayaan uranium dalam satu dekade mendatang. Langkah ini muncul setelah Trump mengalami kemarahan berjam-jam terhadap para jenderal usai jatuhnya jet tempur AS di tangan Iran.
Menurut laporan New York Times, proposal tersebut akan mengharuskan Iran menghentikan pengayaan uranium selama 10 tahun, sebelum diizinkan memproduksi jumlah terbatas uranium rendah kadar untuk satu dekade berikutnya. Trump sebelumnya menuntut penangguhan 20 tahun agar kesepakatan tidak terlihat mirip dengan perjanjian nuklir 2015 yang pernah ia batalkan.
Ketegangan meningkat setelah sebuah F-15E Strike Eagle ditembak jatuh Iran pada 3 April, menewaskan dua pilot AS. Peristiwa ini menjadi insiden pertama pesawat AS ditembak jatuh dalam konflik, memicu kemarahan Trump yang disebut “berteriak kepada staf selama berjam-jam.”
Satu pilot berhasil diselamatkan tujuh jam kemudian, sementara pilot lainnya baru dievakuasi pada Sabtu malam dalam operasi berisiko tinggi. Trump dilaporkan baru beristirahat setelah pukul 2 dini hari.
Di tengah krisis, Trump mengklaim di Truth Social bahwa Israel tidak pernah “membujuknya” masuk perang dengan Iran, melainkan keyakinannya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia juga menyinggung kemungkinan “regime change” sebagai jalan menuju masa depan Iran yang lebih sejahtera.
Namun, laporan Wall Street Journal menyebut Trump sempat dikeluarkan dari ruang operasi saat tim militernya menerima pembaruan menit demi menit terkait jatuhnya jet. Hal ini menambah sorotan atas gaya kepemimpinan Trump dalam menangani konflik.
Sementara itu, Iran menyatakan tidak memiliki rencana untuk menghadiri pembicaraan damai dengan AS, meski pejabat Pakistan dan AS mengklaim Teheran masih meninjau kemungkinan partisipasi. Situasi semakin rumit setelah Angkatan Laut AS menembaki kapal tanker Iran yang mencoba menembus blokade di Selat Hormuz.
Harga minyak dunia pun melonjak, dengan Brent naik 4,74 persen menjadi $94,66 per barel, dan West Texas Intermediate naik 5,6 persen menjadi $88,55 per barel.
