Trump Dipermalukan, Iran Tolak Negosiasi Damai di Tengah Blokade
SinPo.id - Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump memaksa Iran kembali ke meja perundingan berakhir dengan penolakan tegas. Menjelang berakhirnya gencatan senjata, Teheran menyatakan tidak akan menghadiri putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan Senin malam 20 April 2026, dengan alasan tuntutan Washington dianggap berlebihan dan kontradiktif.
Trump sebelumnya melontarkan ancaman keras di Truth Social, menyebut jika Iran menolak kesepakatan, maka AS akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut. Namun, pernyataan itu justru memicu reaksi keras dari Iran. Kantor berita IRNA menulis bahwa sikap AS yang terus mempertahankan blokade laut merupakan pelanggaran gencatan senjata.
Tasnim News menambahkan, tim negosiasi Iran menegaskan tidak akan berunding selama deklarasi blokade oleh Trump tetap berlaku. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, bahkan menyebut blokade tersebut sebagai kejahatan perang dan tindakan tidak sah yang menjatuhkan hukuman kolektif terhadap rakyat Iran.
Situasi semakin memanas setelah Trump mengumumkan penyitaan kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman oleh kapal perusak USS Spruance. Ia mengklaim kapal Iran dihentikan dengan tembakan yang melubangi ruang mesin.
Trump sebelumnya juga menuai kontroversi lewat unggahan bernada kasar di Hari Paskah, menuntut Iran membuka Selat Hormuz. Strategi intimidasi itu disebut sebagai upaya Trump untuk tampil “tidak stabil” agar menekan Iran. Namun, hasilnya justru sebaliknya: Iran menolak berunding dan menyebut posisi AS masih terlalu maksimalis.
Deputi Menlu Iran, Saeed Khatibzadeh, menegaskan: “Kami belum bisa melanjutkan ke pertemuan nyata karena Amerika belum meninggalkan posisi maksimalis mereka.”
