Israel Anggap Turki sebagai 'Iran Baru' di Timur Tengah

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 19 April 2026 | 02:47 WIB
Turki
Turki

SinPo.id -  Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah sejumlah pengamat menilai Turki kini dipandang Israel sebagai “Iran baru.” Pandangan ini muncul seiring melemahnya pengaruh Iran dan proksinya pasca perang dengan Amerika Serikat dan Israel, serta meningkatnya peran Ankara di kawasan.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, baru-baru ini mengganti foto profil di platform X dengan peta dunia yang menonjolkan posisi Turki. Simbol tersebut dianggap mencerminkan ambisi ekspansionis Ankara dan nostalgia terhadap kejayaan Kekaisaran Ottoman.

Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, bahkan menyebut secara terang-terangan bahwa “Turki adalah Iran baru.” Ia menilai Presiden Recep Tayyip Erdoğan berupaya memperluas pengaruh di Suriah dan kawasan lain, dengan tujuan mengepung Israel.

Persaingan Strategis

Menurut analis Washington Institute, Soner Cagaptay, Turki dan Israel kini berada dalam kompetisi strategis. Ankara memandang hubungan Israel dengan kelompok Druze dan Syrian Democratic Forces sebagai ancaman terhadap kepentingan inti Turki di Suriah. Sebaliknya, Israel menilai dukungan Turki terhadap Hamas dan sikapnya terhadap Gaza sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional.

Persaingan ini meluas hingga ke Mediterania Timur dan bahkan Afrika Timur, dengan munculnya dua blok aliansi baru: Pakistan–Saudi Arabia–Mesir–Turki berhadapan dengan Israel–India–Uni Emirat Arab–Yunani.

Diplomasi Energi dan Teknologi

Pengamat lain, Mohammad Sarmini, menekankan bahwa kekhawatiran Israel bukan hanya soal militer, tetapi juga diplomasi energi Turki. Ankara berhasil melemahkan Forum Gas Mediterania Timur yang semula dirancang untuk mengisolasinya, serta menggeser posisi Mesir ke arah strategi yang lebih netral.

Selain itu, Turki mengembangkan “deterrence teknologi” melalui industri pertahanan, termasuk drone Baykar dan rudal hipersonik Roketsan. Sarmini menilai langkah ini lebih efektif dibanding strategi Iran yang mengandalkan serangan misil massal.

Implikasi bagi Israel

Dengan melemahnya proksi Iran seperti Hamas dan Hezbollah, muncul pertanyaan apakah Turki akan mengambil alih jaringan tersebut. Namun, Sarmini menilai Ankara lebih memilih bekerja dengan negara-negara berdaulat ketimbang organisasi milisi.

Hal ini menjadikan Turki sebagai “Iran baru” dalam bentuk yang lebih sah secara diplomatik: bukan dengan memperkuat milisi, melainkan dengan membangun kekuatan negara-negara di sekitar Israel untuk menghalangi ambisi Tel Aviv.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI