Rano Soroti Inklusivitas di Perayaan Paskah

Laporan: Sigit Nuryadin
Sabtu, 18 April 2026 | 19:56 WIB
Wagub DKI Jakarta Rano Karno (SinPo.id/ Dok. Pemprov DKI)
Wagub DKI Jakarta Rano Karno (SinPo.id/ Dok. Pemprov DKI)

SinPo.id - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan pentingnya menjaga inklusivitas di tengah keberagaman kota saat menghadiri perayaan Paskah bersama masyarakat di Taman Fatahillah, Sabtu, 18 April 2026. 

Dia menilai tantangan utama Jakarta bukan hanya pembangunan fisik, melainkan memastikan kesetaraan ruang bagi seluruh warga.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 5.000 jemaat dari berbagai unsur, Rano menyoroti, semangat Paskah harus dimaknai lebih luas sebagai dorongan memperkuat kohesi sosial. 

“Pembaruan di Jakarta bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih empatik, saling menghargai, dan memiliki kepedulian sosial tinggi,” ujar Rano dalam keterangan resminya, Sabtu, 18 April 2026.

Menurut dia, keberagaman yang dimiliki Jakarta justru menjadi kekuatan jika diiringi ruang interaksi yang terbuka. Pemerintah, kata Rano, terus berupaya menghadirkan fasilitas publik yang inklusif agar semua warga dapat mengaksesnya tanpa hambatan. 

“Tantangan kita adalah memastikan setiap warga memiliki ruang yang setara,” tutur dia. 

Rano juga mengaitkan pesan Paskah dengan kondisi sosial ibu kota yang dinamis. Dia menyebut tema perayaan sebagai pengingat untuk melakukan pembaruan, baik secara individu maupun kolektif. 

“Paskah membawa pesan harapan dan pembaruan. Menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbarui diri,” ucap Rano. 

Rano menambahkan, capaian Jakarta sebagai kota teraman kedua di kawasan Asia Tenggara merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. 

“Capaian ini adalah buah dari kerja bersama, menunjukkan kohesi sosial di Jakarta terjaga dengan baik dan harus terus dirawat,” ucapnya.

Menutup sambutan, Rano mengajak masyarakat mempertahankan nilai toleransi dan kebersamaan di tengah perkembangan kota. Dia menegaskan, tanpa fondasi sosial yang kuat, ambisi menjadikan Jakarta sebagai kota global berpotensi kehilangan arah.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI