Gen Z Muslim 60 Juta Jiwa, MATAHATI Dorong Transformasi Strategi Syiar Islam

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 13 April 2026 | 19:21 WIB
Ilustrasi (Sinpo.id/SMAMuhammadiyahLempangang)
Ilustrasi (Sinpo.id/SMAMuhammadiyahLempangang)

SinPo.id -  Study Club MATAHATI Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang menilai masa depan syiar Islam di Indonesia akan sangat ditentukan oleh peran generasi Z muslim yang jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 60 juta jiwa.

Besarnya populasi ini dinilai sebagai peluang strategis sekaligus tantangan serius dalam menjaga relevansi dakwah di tengah perubahan zaman.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), generasi Z di Indonesia mencapai sekitar 71,5 juta jiwa atau lebih dari seperempat total populasi.

Dengan mayoritas penduduk beragama Islam, kelompok ini menjadi kekuatan demografis terbesar dalam lanskap dakwah Islam kontemporer.

Ketua Bidang Media Informasi MATAHATI, Haqqi Firdausi Avirusdi, mengatakan bonus demografi tersebut harus direspons dengan pendekatan yang tepat agar tidak justru menjadi celah melemahnya keterikatan generasi muda terhadap nilai-nilai keislaman.

“Kita sedang menghadapi bonus demografi dalam konteks syiar Islam. Namun tanpa pendekatan yang tepat, potensi besar ini justru bisa menjadi celah melemahnya keterikatan generasi muda terhadap nilai-nilai keislaman,” ujar Haqqi di Semarang, Senin, 13 April 2026.

Menurutnya, karakter generasi Z yang sangat lekat dengan dunia digital menuntut perubahan mendasar dalam strategi dakwah.

Pola syiar konvensional dinilai tidak lagi cukup efektif untuk menjangkau generasi yang tumbuh dalam ekosistem media sosial dengan preferensi pada konten cepat, visual, dan kontekstual.

Di sisi lain, tantangan sosial juga menjadi perhatian. Masih terdapat jutaan generasi Z yang masuk kategori Not in Education, Employment, or Training (NEET), yang berpotensi memperlebar jarak antara anak muda dengan aktivitas keagamaan yang produktif.

“Syiar Islam tidak bisa lagi berdiri di ruang yang eksklusif. Ia harus hadir menjawab realitas mulai dari persoalan identitas, kesehatan mental, hingga tekanan sosial yang dihadapi anak muda hari ini,” kata alumnus Pondok Pesantren Gontor tersebut.

Merespons kondisi itu, MATAHATI mendorong transformasi strategi syiar Islam melalui tiga pendekatan utama.

Pertama, digitalisasi dakwah dengan mengoptimalkan platform media sosial sebagai ruang interaksi utama generasi Z, dengan konten yang ringkas, relevan, dan menarik secara visual.

Kedua, penguatan basis komunitas melalui revitalisasi peran masjid sebagai pusat aktivitas remaja. Kegiatan keagamaan didorong agar lebih inklusif dan adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam.

Ketiga, pembangunan ekosistem kolaboratif melalui sinergi lintas komunitas serta penguatan kaderisasi remaja masjid yang berkelanjutan.

Haqqi menegaskan, keberhasilan syiar Islam ke depan tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai keislaman dapat terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari generasi Z.

“Ini bukan sekadar soal dakwah, tetapi tentang bagaimana Islam hadir secara nyata dalam kehidupan generasi muda. Jika kita gagal beradaptasi, maka kita akan kehilangan momentum sejarah,” tegasnya.

Dengan pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis realitas generasi muda, MATAHATI optimistis generasi Z muslim dapat menjadi motor penggerak syiar Islam yang progresif, inklusif, dan relevan di tengah dinamika zaman.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI