Halalbihalal DKI, Rano Karno Soroti Toleransi dan Dampak Ekonomi
SinPo.id - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menekankan pentingnya kohesi sosial sebagai fondasi keamanan dan pertumbuhan ekonomi Ibu Kota dalam acara halalbihalal Pemprov DKI bersama warga di Taman Fatahillah, Jakarta Barat.
Dalam sambutannya, Rano memposisikan halalbihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan ruang publik yang merepresentasikan wajah inklusif Jakarta. Dia menyebut kota ini terus membuka ruang setara bagi seluruh warga tanpa memandang latar belakang.
“Jakarta adalah kota yang merangkul semua. Kota ini membuka ruang bagi setiap warganya untuk setara, merasa memiliki, dan tidak merasa asing di kotanya sendiri,” kata Rano dalam keterangan resminya dikutip Minggu, 12 April 2026.
Dia menjelaskan, pemilihan Taman Fatahillah sebagai lokasi acara mengandung pesan simbolik: menjaga akar sejarah sekaligus menatap masa depan kota.
Menurut dia, narasi kebersamaan itu tercermin dalam berbagai perayaan lintas budaya yang rutin digelar di Jakarta, mulai dari Christmas Carol, Imlek, hingga Festival Ogoh-Ogoh dan Jakarta Beduk.
Rano mengaitkan harmoni sosial tersebut dengan capaian keamanan kota. Ia menyebut Jakarta kini menempati posisi kedua sebagai kota teraman di Asia Tenggara, yang menurutnya merupakan hasil dari kedewasaan masyarakat dalam menjaga toleransi.
“Capaian ini lahir dari kedewasaan warga serta sikap saling menghormati,” ujar dia.
Selain aspek sosial, Rano juga menyoroti dampak ekonomi dari kegiatan berbasis kolaborasi. Ia mencontohkan penyelenggaraan Jakarta Festive Wonders 2026 yang melibatkan ratusan pelaku usaha dan menghasilkan transaksi hingga Rp67,5 triliun.
"Sementara itu, program “Mudik ke Jakarta” mencatat perputaran ekonomi sebesar Rp20 miliar," ungkap Rano.
Menurut Rano, capaian tersebut menunjukkan bahwa stabilitas sosial berkelindan dengan kepercayaan publik dan aktivitas ekonomi.
“Hal ini menunjukkan Jakarta tetap menjadi destinasi yang menarik dan dipercaya, serta terus menggerakkan aktivitas ekonomi dan sosial,” ucapnya.
Dia menambahkan, keberlanjutan Jakarta sebagai kota global tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan warganya menjaga nilai kebersamaan.
“Jakarta bukan hanya tempat kita tinggal, tetapi juga amanah yang harus kita rawat bersama,” tandasnya.
