Kirim Surat ke PBB, Generasi Muda Indonesia Tuntut Perlindungan dari Industri Rokok

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 09 April 2026 | 21:22 WIB
Ilustrasi rokok (SinPo.id/Freepik/Atlascompany)
Ilustrasi rokok (SinPo.id/Freepik/Atlascompany)

SinPo.id - Bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Dunia, aliansi 34 organisasi kepemudaan Indonesia, dipimpin oleh Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), mengirimkan Surat Terbuka Berdaulat (Sovereign SOS) kepada Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dan Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

"Kami tidak akan pernah bisa mencapai mimpi Indonesia Emas 2045 kalau kualitas manusianya sengaja dibiarkan merosot," kata Ketua Umum IYCTC Manik Marganamahendra, dalam keterangannya, Kamis, 9 April 2026.

Surat tersebut menuntut enam hal, termasuk pelarangan total iklan, promosi, dan sponsor produk tembakau serta nikotin di seluruh jaringan internet, dan pembentukan mekanisme hukum internasional untuk meminta pertanggungjawaban korporasi rokok atas kerugian ekonomi.

"Industri rokok telah merampas hak nutrisi anak-anak Indonesia dan menghancurkan lingkungan," kata Advocacy lead Program IYCTC Daniel Beltsazar Jacob.

"Sains itu jelas, tapi dikaburkan oleh industri dengan bilang vape lebih aman. Faktanya, pengguna vape remaja melonjak 10 kali lipat di tahun 2021," sambungnya.

Menteri Analisis Strategis BEM Universitas Sebelas Maret Khoirunnajib Berliansyah mengaku turut prihatin dengan kondisi keluarga dengan anggota perokok. Pasalnya pengeluaran rumah tangga digunakan untuk membeli rokok cukup tinggi.

"Data membuktikan kalau rumah tangga perokok itu rela pakai 10,7 persen uang bulanan mereka buat beli rokok, jauh lebih tinggi dibanding buat beli protein hewani atau pendidikan anak," kata Khoirunnajib.

Lalu, Chairperson ASEAN Youth Organization (AYO) Sarah Rauzana menyebut, Indonesia merupakan satu-satunya negara anggota ASEAN yang belum meratifikasi FCTC. "Sehingga perlindungan terhadap anak, terutama dari paparan iklan lintas batas di ruang digital, menjadi yang paling lemah di kawasan Asia Tenggara," kata Sarah.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI