Harga Kedelai Naik, DKI Dorong Diversifikasi Pangan Warga
SinPo.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong masyarakat mengurangi ketergantungan pada kedelai, menyusul kenaikan harga komoditas tersebut di pasaran.
Imbauan ini disampaikan sebagai langkah mitigasi agar beban pengeluaran rumah tangga tetap terkendali.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengatakan warga perlu mulai menyesuaikan pola konsumsi dengan alternatif pangan lain yang memiliki kandungan gizi seimbang namun lebih terjangkau.
“Untuk meminimalisir dampak kenaikan harga kedelai, dengan menghimbau masyarakat agar menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangannya dengan komoditas pangan lainnya yang memiliki nilai gizi yang seimbang, namun dengan harga yang lebih terjangkau (diversifikasi pangan),” ujar Hasudungan, Kamis, 9 April 2026.
Selain diversifikasi konsumsi, kata dia, pemerintah daerah juga mendorong praktik pertanian perkotaan atau urban farming sebagai strategi jangka menengah untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Menurut Hasudungan, upaya tersebut dapat membantu masyarakat memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri di tengah fluktuasi harga bahan pokok.
“Masyarakat juga dapat melakukan urban farming guna menghadapi kenaikan harga tersebut,” katanya.
Dia menjelaskan, harga kedelai saat ini mengalami kenaikan signifikan di berbagai lini distribusi. Pada tingkat pengrajin tahu dan tempe, harga kedelai naik menjadi Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp8.000 hingga Rp8.600 per kilogram.
Adapun di tingkat pedagang pasar tradisional, harga kedelai kini berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, dibandingkan sebelumnya Rp13.000 hingga Rp18.000 per kilogram.
