Pramono: Pendidikan Pancasila Tak Boleh Sekadar Hafalan

Laporan: Sigit Nuryadin
Selasa, 07 April 2026 | 20:31 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (SinPo.id/ Dok. Pemprov DKI)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (SinPo.id/ Dok. Pemprov DKI)

SinPo.id - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menekankan pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah tidak boleh berhenti pada hafalan semata. 

Dia meminta proses belajar dirancang sebagai ruang diskusi yang hidup, kontekstual, dan dekat dengan keseharian siswa.

Hal itu disampaikan Pramono saat membuka Sosialisasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Kegiatan tersebut digelar Pemerintah ProvinsiDKI Jakarta bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mewajibkan Pendidikan Pancasila di semua jenjang.

“Pancasila harus hadir di dalam ruang diskusi yang hidup di kelas. Jangan bersifat dogmatis,” kata Pramono. 

Dia menilai pendekatan yang mengaitkan materi dengan isu mutakhir akan membuat Pancasila tetap relevan bagi peserta didik. 

“Dengan mengaitkan proses pembelajaran para siswa dengan hal-hal yang up to date, maka mempelajari Pancasila menjadi sesuatu yang kekinian," tuturnya. 

Pramono juga mengingatkan agar pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hafalan nilai. Menurut dia, penanaman nilai harus dilakukan melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. 

“Jangan sekadar menjadi hafalan. Yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai itu disampaikan secara jujur, disiplin, apa adanya, saling menghargai, dan peduli,” ujar Pramono.. 

Selain itu, dia menekankan penguatan Pancasila tidak cukup dilakukan di sekolah. Nilai-nilai tersebut, kata dia, harus tercermin dalam hubungan antara keluarga, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari. 

“Kalau itu sudah menjadi satu, saya yakin itu menjadi kekuatan yang luar biasa,” tutur Pramono.

Dia berharap para pendidik mampu menyiapkan generasi yang tangguh menghadapi perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan dinamika sosial. 

Pramono juga optimistis Jakarta dapat menjadi contoh dalam implementasi Pendidikan Pancasila yang aplikatif. 

“Saya yakin Jakarta bisa menjadi role model dari proses pendidikan Pancasila,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, menyatakan penguatan ideologi Pancasila merupakan bagian penting dalam visi Indonesia Emas 2045. Dia menilai revitalisasi nilai Pancasila perlu dilakukan di berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga ruang digital.

“Pancasila bukan sekadar dokumen historis atau teks normatif, tetapi merupakan jiwa bangsa dan pedoman hidup bersama,” kata Yudian.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI