Serangan AS-Israel Tewaskan 34 Orang di Iran, Teheran Ancam Balasan Lebih Dahsyat
SinPo.id - Lebih dari 34 orang tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel di berbagai wilayah Iran sejak Minggu hingga Senin 6–7 April 2026. Pemerintah Iran memperingatkan akan melancarkan balasan yang lebih “menghancurkan dan meluas” jika serangan terhadap target sipil kembali dilakukan.
Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya menegaskan melalui Telegram bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil akan memicu tahap ofensif baru yang lebih dahsyat. Peringatan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran bila Selat Hormuz tidak dibuka penuh sebelum tenggat Selasa malam.
Wakil Menlu Iran, Majid Takht-Ravanchi, mendesak Trump menghentikan ancaman, menegaskan Teheran akan merespons cepat dan tegas terhadap setiap agresi. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, bahkan menyebut Trump berisiko “menjerumuskan AS ke dalam neraka hidup bagi setiap keluarga,” sambil menudingnya bertindak atas arahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Tehran: 23 orang tewas, termasuk 13 korban di Baharestan. Enam anak di bawah 10 tahun dilaporkan meninggal.
Sharif University of Technology: kampus rusak parah, masjid dan SPBU di sekitar lokasi ikut terdampak.
Bandar-e-Lengeh: 6 korban jiwa.
Qom: 5 korban jiwa di area permukiman.
Ledakan juga dilaporkan di Karaj, Shiraz, Isfahan, dan Bushehr.
Kementerian Kesehatan Iran menyebut delapan rumah sakit di ibu kota harus dievakuasi. Lebih dari 50 pusat darurat dan ratusan unit kesehatan mengalami kerusakan. Di antara korban tewas terdapat Mayor Jenderal Seyyed Majid Khademi, kepala intelijen IRGC.
Iran membalas dengan serangan ke aset di Teluk:
UAE: rudal dicegat di Abu Dhabi, seorang warga Ghana terluka. Drone menghantam gedung perusahaan telekomunikasi Du di Fujairah.
Kuwait: enam orang terluka akibat serpihan di permukiman utara.
Saudi Arabia: Kementerian Pertahanan mengklaim berhasil mencegat dua drone.
Eskalasi ini menambah ketegangan geopolitik di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran atas stabilitas energi global dan risiko konflik regional yang lebih luas.

