Kemenkes Kritik Materi Promosi Film Provokatif, Berpotensi Picu Orang Bunuh Diri

Laporan: Tio Pirnando
Senin, 06 April 2026 | 14:44 WIB
Baliho promosi film berjudul
Baliho promosi film berjudul "Aku Harus Mati" di Jalan (SinPo.id/X)

SinPo.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengkritik materi provokatif promosi film berjudul "Aku Harus Mati" yang terpampang luas di ruang publik. Karena baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri (copycat suicide), terutama di tengah tren kenaikan angka kematian di Indonesia yang cukup signifikan.

"Komunikasi publik yang tidak bertanggung jawab berpotensi memperburuk situasi," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, dalam keterangannya, Senin, 6 April 2026. 

Imran menilai, kecaman publik serta para pakar jiwa terhadap baliho ini bukan sekadar soal estetika atau kebebasan berekspresi. Pangkalnya, ketika tema bunuh diri dihadirkan tanpa kehati-hatian, dampaknya langsung menyentuh keselamatan publik.

Ia mengingatkan, pemilihan kata dalam promosi film sering kali tampak sepele, tetapi memiliki dampak fatal bagi individu rapuh. Menggambarkan bunuh diri sebagai sebuah "pilihan" atau "pembebasan" dapat ditangkap sebagai bentuk legitimasi oleh mereka yang sedang putus asa.

Berdasarkan laporan Polri, tercatat kematian akibat bunuh diri meningkat dari 1.350 kasus pada 2023 menjadi 1.450 kasus di 2024. Dan, layanan kesehatan jiwa juga mengalami lonjakan permintaan bantuan. 

Pada Agus 2025, panggilan layanan Healing 119 tercatat rata-rata 400 panggilan, lalu di tahun ini, menjadi 550 panggilan setiap harinya. 

"Angka-angka ini menegaskan bahwa paparan publik terhadap materi sensitif terjadi dalam konteks kebutuhan layanan yang meningkat," tegasnya. 

Untuk itu, Kemenkes meminta para pembuat film, tim pemasaran, hingga pengelola ruang publik, mempunyai tanggung jawab kolektif. Jika materi promosi sebuah film terlihat berisiko, sebaiknya direvisi atau dihapus. 

Kemenkes juga mengajak semua pihak untuk mengubah nada komunikasi dari yang semula bersifat sensasional menjadi protektif. 

"Ketika komunikasi diarahkan untuk memberi konteks dan menawarkan harapan, media dapat berubah dari potensi pemicu menjadi alat pencegahan yang kuat," tandasnya.

Catatan Redaksi: Jika Anda mengalami depresiasi, persoalan kejiwaan, tekanan emosional atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, sebaiknya segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat atau layanan darurat Healing 119. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI