Analis: Perebutan Kursi Cawapres 2029 Lebih Sengit

Laporan: Sigit Nuryadin
Minggu, 05 April 2026 | 21:25 WIB
Ilustrasi TPS (SinPo.id/ Khaerul Anam)
Ilustrasi TPS (SinPo.id/ Khaerul Anam)

SinPo.id - Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai persaingan menuju posisi calon wakil presiden pada Pilpres 2029 akan lebih ketat dibandingkan perebutan kursi calon presiden.

Menurut dia, dominasi elektoral Prabowo Subianto sebagai petahana membuat posisi calon presiden relatif tidak kompetitif bagi tokoh lain, sementara kursi wakil presiden justru menjadi ajang pertarungan utama.

“Pak Prabowo ini tinggal satu periode lagi, 2034 pasti selesai, dia harus pinter-pinter milih wapres,” ujar Hendri dalam podcast yang dikutip Minggu, 5 April 2026.

Hendri menyebut tiga nama yang berpotensi mendampingi Prabowo, yakni Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dari ketiga nama itu, ia menilai Gibran masih menjadi kandidat terkuat untuk posisi calon wakil presiden. 

“Masih Gibran. Yang kedua saya menjagokan KDM, karena dari sisi partai politiknya pun masuk,” kata dia.

Kendati demikian, Hendri memberi catatan terhadap peluang duet Prabowo-Gibran kembali pada 2029. Dia menilai skenario tersebut tidak lagi ideal secara politik karena berpotensi menghambat langkah Gibran menuju posisi calon presiden.

“Kalau Prabowo bersama Gibran lagi di 2029, itu artinya Prabowo membesarkan Gibran. Memang mempersiapkan Gibran sebagai calon presiden,” ujarnya.

Dia menuturkan sejak awal kemunculan Gibran di panggung nasional tidak lepas dari peran Joko Widodo, yang dinilai memiliki agenda jangka panjang untuk mendorong putranya menjadi presiden.

“Semakin lama Gibran berada di posisi nomor dua, semakin besar risiko ia kehilangan momentum untuk naik sendiri,” kata Hendri.

Di sisi lain, nama Dedi Mulyadi dinilai memiliki daya tarik elektoral yang kuat, terutama di Jawa Barat. Namun, peluangnya sangat bergantung pada kesiapan partai pengusung membuka ruang lebih luas bagi kader di luar lingkaran inti.

Adapun Teddy Indra Wijaya dinilai mendapat perhatian publik karena posisinya yang strategis di pemerintahan dan intensitas kemunculannya dalam komunikasi kebijakan.

Hendri memperkirakan Prabowo akan cenderung memilih pendamping yang tidak memiliki ambisi politik besar yang berpotensi mengganggu stabilitas kekuasaan.

“Dia akan memilih cawapres yang tidak punya ambisi mengganggu posisinya,” ujarnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI