Gelombang Mundur Pemimpin Republik: Pertanda Suram Jelang Pemilu Paruh Waktu

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 05 April 2026 | 06:25 WIB
Amerika Serikat (pixabay)
Amerika Serikat (pixabay)

SinPo.id -  Lebih dari selusin pemimpin Partai Republik di legislatif negara bagian memilih mundur dalam 14 bulan terakhir. Fenomena ini, menurut para analis, menjadi sinyal buruk menjelang pemilu paruh waktu, di tengah merosotnya tingkat persetujuan publik terhadap Presiden AS Donald Trump.

Gelombang pengunduran diri tersebut terjadi di negara-negara bagian kunci seperti Wisconsin, North Carolina, Georgia, dan Iowa. Kondisi ini mencerminkan tren serupa di Kongres, di mana 36 anggota DPR dari Partai Republik dan tujuh senator GOP telah mengumumkan tidak akan mencalonkan diri kembali pada November mendatang.

Konsultan GOP asal Colorado, Dick Wadhams, mengatakan kepada Politico: “Saya pikir tindakan Trump membuat Partai Republik terus berada dalam posisi defensif. Mereka tidak tahan lagi.”

Kerugian terbesar terjadi di Wisconsin, setelah Ketua Majelis Robin Vos dan Pemimpin Mayoritas Senat Devin LeMahieu mengumumkan pensiun. Hal ini membuat Partai Republik harus mempertahankan mayoritas tipis di peta baru yang sudah merenggut 10 kursi Majelis pada 2024.

Politico menulis secara lugas: “Demokrat sedang meneteskan air liur melihat peluang. Partai Republik kehilangan barisan cadangan mereka.”

Komite Kampanye Legislatif Demokrat (DLCC) bahkan menggelontorkan dana sebesar 50 juta dolar AS — investasi terbesar mereka — untuk menargetkan 42 kamar legislatif pada November. Para pejabat Demokrat membandingkan situasi 2026 dengan gelombang pemilu 2010, ketika Partai Republik berhasil membalikkan 22 kamar sekaligus.

Sementara itu, survei terbaru Marquette Law School menunjukkan hanya 42 persen pemilih Wisconsin yang menyetujui kinerja Trump. Mayoritas responden menolak perang di Iran dan mendukung keputusan Mahkamah Agung untuk membatalkan tarif yang diberlakukan Trump.

Dengan tren pengunduran diri dan rendahnya dukungan publik, Partai Republik menghadapi tantangan besar mempertahankan kekuatan politiknya menjelang pemilu paruh waktu.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI