Donald Trump Bungkam Soal Nasib Pilot AS, Ingatkan Krisis Sandera Iran 47 Tahun Lalu
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak enggan berkomentar ketika ditanya oleh The Independent mengenai langkah yang akan diambil jika perwira AS yang hilang di Iran ditangkap atau disakiti. “Yah, saya tidak bisa berkomentar tentang itu, karena… kami berharap hal itu tidak akan terjadi,” ujarnya singkat.
Sikap bungkam Trump disebut terkait dengan kenangan krisis sandera Iran 47 tahun lalu. Saat itu, Trump muda mengkritik Presiden Jimmy Carter karena gagal menyelamatkan diplomat AS yang ditahan selama Revolusi Islam. “Bahwa mereka menahan sandera kita benar-benar konyol dan tidak masuk akal; bahwa negara ini duduk diam dan membiarkan negara seperti Iran menahan sandera kita, menurut saya itu sebuah horor,” kata Trump dalam wawancara lama yang baru ditemukan.
Konteks Sejarah
Krisis sandera Iran berakhir dengan misi penyelamatan gagal yang menewaskan delapan tentara AS, sekaligus menghancurkan peluang Carter untuk terpilih kembali.
Trump kemudian membandingkan keberhasilan operasi penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari 2026 dengan “bencana Jimmy Carter yang menghancurkan seluruh pemerintahannya.”
Situasi Terkini
Jet tempur F-15 AS ditembak jatuh di Iran pada Jumat; satu pilot berhasil diselamatkan, sementara perwira sistem senjata masih hilang.
Iran menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang memberikan informasi tentang kru yang hilang.
Trump sebelumnya menyombongkan kendali penuh atas langit Iran: “Kami telah menghancurkan pertahanan udara mereka. Tidak ada pertahanan udara sama sekali. Kami benar-benar punya pesawat terbang di atas Teheran dan bagian lain negara mereka. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.”
Diketahui, Trump kini berada dalam posisi sulit, setelah sebelumnya mengklaim perang berjalan baik dan akan segera berakhir. Namun, kehilangan seorang perwira AS menyoroti keterbatasan kekuatan militer AS tanpa pasukan darat maupun kendali penuh atas Selat Hormuz.
Kritikus menilai Trump ingin dikenang sebagai presiden pembawa damai, tetapi justru berisiko dicatat sebagai pemimpin yang melancarkan perang penuh kegagalan. Dalam unggahan di Truth Social, ia menulis: “Waktu hampir habis.” Ironisnya, waktu kini tampak berpihak pada rezim Iran, bukan pada perang Trump.

