Indonesia Desak PBB Evaluasi Keselamatan Pasukan Perdamaian Usai Serangkaian Insiden di Lebanon

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 05 April 2026 | 00:46 WIB
Menlu Sugiono (Ashar/SinPo.id)
Menlu Sugiono (Ashar/SinPo.id)

SinPo.id -  Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengevaluasi jaminan keselamatan pasukan penjaga perdamaian di seluruh wilayah penugasan, khususnya di Lebanon. Hal ini disampaikan menyusul serangkaian insiden yang menimpa prajurit TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

“Kita juga meminta kepada PBB untuk mengevaluasi lagi keselamatan prajurit penjaga perdamaian PBB ini di mana pun berada khususnya di UNIFIL ini,” ujar Sugiono saat ditemui di Bandara Soekarno Hatta, Sabtu 4 April 2026. Ia menegaskan bahwa keselamatan prajurit adalah prioritas utama agar mereka dapat menjalankan amanah negara dengan sehat dan selamat.

Tuntutan Indonesia:

  1. Evaluasi menyeluruh terhadap jaminan keselamatan pasukan perdamaian PBB.
  2. Investigasi mendalam atas insiden yang menimpa prajurit TNI di Lebanon.
  3. PBB diminta memberikan guarantee keamanan bagi seluruh pasukan perdamaian.

Sugiono menekankan bahwa insiden yang menimpa pasukan perdamaian seharusnya tidak terjadi, mengingat mandat mereka adalah menjaga stabilitas, bukan terlibat dalam konflik. “Harus ada satu guarantee keamanan bagi prajurit-prajurit penjaga perdamaian karena mereka menjaga perdamaian, they are peacekeeping not peacemaking,” tegasnya.

Diketahui, Jumat 3 April 2026, tiga prajurit TNI terluka akibat ledakan di fasilitas PBB dekat El Adeisse, Lebanon Selatan. Dua di antaranya mengalami luka serius.

Sebelumnya, seorang prajurit gugur akibat serangan pada Minggu (29/3/2026), disusul dua prajurit lainnya tewas setelah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL.

Tiga prajurit yang gugur adalah Mayor Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Farizal Rhomadon.

Insiden-insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon Selatan, yang belakangan diwarnai bentrokan antara militer Israel dan kelompok bersenjata.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI