HIPMI: Adaptasi Lewat Live Streaming Buka Peluang Besar Ekonomi Digital

Laporan: Tio Pirnando
Jumat, 03 April 2026 | 13:53 WIB
Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anggawira. (SinPo.id/dok. Pribadi)
Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anggawira. (SinPo.id/dok. Pribadi)

SinPo.id - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai, fenomena Pinkan Mambo yang kini aktif melakukan live streaming dan berjualan di platform digital, menjadi gambaran nyata perubahan besar dalam industri hiburan sekaligus dunia usaha di tanah air.

Menurut Sekretaris Jenderal HIPMI, Anggawira, apa yang dilakukan Pinkan Mambo, itu merupakan bentuk adaptasi positif terhadap perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi digital, dan pergeseran pola bisnis di era ekonomi kreatif.

"Dulu seorang artis bergantung pada televisi, panggung, label rekaman, atau event organizer. Hari ini, siapapun bisa langsung membangun pasar sendiri melalui live streaming, media sosial, dan platform digital. Apa yang dilakukan Pinkan Mambo menunjukkan bahwa figur publik pun harus adaptif terhadap perubahan zaman," ujar Anggawira dalam keterangannya, Jumat, 5 April 2026. 

Anggawira menyampaikan, fenomena TikToker, live seller, affiliate marketer, dan content creator yang mampu meraih omzet ratusan juta hingga miliaran rupiah per bulan, membuktikan bahwa ekonomi digital telah membuka ruang usaha baru yang sangat besar.

"Sekarang banyak pelaku usaha yang justru lahir dari live streaming. Ada yang menjual makanan, fashion, kosmetik, elektronik, hingga jasa. Penghasilannya tidak kalah dengan bisnis konvensional. Ini menunjukkan bahwa ekonomi digital bukan lagi pelengkap, tetapi sudah menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi baru," katanya.

HIPMI menilai, tren tersebut harus menjadi momentum bagi UMKM, generasi muda, dan pelaku usaha daerah untuk lebih berani masuk ke ekosistem digital.

"Kita tidak boleh lagi memandang live streaming atau jualan online sebagai sesuatu yang kecil. Hari ini, seorang penjual yang konsisten melakukan live, punya storytelling yang baik, mampu menjaga kepercayaan konsumen, dan memahami algoritma platform bisa memiliki omzet lebih besar dibanding toko fisik," ungkapnya.

Namun demikian, Anggawira mengingatkan bahwa bisnis digital tetap membutuhkan fondasi usaha yang kuat agar tidak hanya bergantung pada viralitas sesaat.

"Live streaming memang bisa menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pasar secara cepat. Tetapi untuk bertahan, pelaku usaha tetap harus punya produk yang berkualitas, layanan pelanggan yang baik, sistem logistik yang kuat, serta kemampuan membangun brand dalam jangka panjang," jelasnya.

HIPMI juga mendorong pemerintah untuk terus memperkuat ekosistem ekonomi digital melalui pelatihan UMKM, perlindungan data, penguatan infrastruktur internet, sistem pembayaran digital, serta pembiayaan yang lebih mudah bagi pelaku usaha kreatif dan digital.

"Ke depan, profesi yang melahirkan banyak pengusaha baru bukan hanya pengusaha konvensional, tetapi juga content creator, live seller, affiliate marketer, dan digital entrepreneur. Ini peluang besar yang harus kita sambut bersama," tutupnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI