Isi Surat Terbuka Presiden Iran Masoud Pezeshkian kepada Rakyat Amerika
SinPo.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis surat terbuka kepada masyarakat Amerika Serikat, menyerukan agar mereka “melihat melampaui” apa yang ia sebut sebagai “mesin disinformasi” di tengah perang AS-Israel dengan negaranya.
Dalam surat yang dibagikan melalui platform X pada Rabu sore, Pezeshkian menegaskan bahwa gambaran Iran sebagai ancaman tidak sesuai dengan fakta sejarah maupun kondisi nyata saat ini. “Menggambarkan Iran sebagai ancaman adalah hasil dari kepentingan politik dan ekonomi pihak berkuasa—menciptakan musuh untuk membenarkan tekanan, mempertahankan dominasi militer, menopang industri senjata, dan mengendalikan pasar strategis,” tulisnya.
Surat ini muncul lebih dari sebulan setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer awal ke Iran yang memicu perang. Pada hari yang sama, Presiden Donald Trump mengklaim melalui Truth Social bahwa “Presiden baru Iran” meminta gencatan senjata, namun Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim tersebut sebagai “palsu dan tidak berdasar.”
Pezeshkian menekankan bahwa rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk Amerika dan Eropa. Ia menegaskan bahwa sepanjang sejarah modern, Iran tidak pernah memilih jalur agresi, kolonialisme, atau dominasi, meski memiliki keunggulan militer dibanding banyak tetangganya. “Apa yang dilakukan Iran adalah respons terukur yang berlandaskan pada hak membela diri, bukan inisiatif perang atau agresi,” ujarnya.
Lebih jauh, Pezeshkian mempertanyakan apakah perang ini benar-benar demi kepentingan rakyat Amerika, menuding AS masuk ke konflik sebagai “proxy Israel.” Ia menuding Israel sengaja menciptakan ancaman Iran untuk mengalihkan perhatian dunia dari tindakannya terhadap rakyat Palestina.
“Apakah ‘America First’ benar-benar menjadi prioritas pemerintah AS saat ini?” tulisnya. Ia mengajak publik Amerika untuk berbicara dengan orang-orang yang pernah berkunjung ke Iran atau melihat kontribusi diaspora Iran di universitas dan perusahaan teknologi terkemuka dunia, sebagai bukti nyata yang berbeda dari narasi ancaman.
Sementara itu, jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika menolak perang ini sejak awal, meski tetap mendapat dukungan dari sebagian kalangan Republik.
