Donald Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Teheran: Palsu dan Tidak Berdasar
SinPo.id - Donald Trump kembali membuat sekutu maupun lawan menebak langkah berikutnya dalam perang di Iran. Ia berganti-ganti antara janji mengakhiri konflik dalam dua hingga tiga minggu, dengan ancaman eskalasi berupa pengerahan pasukan darat atau kampanye penghancuran total.
Pergeseran sikap ini kerap terlihat terkait dengan pergerakan pasar keuangan, di mana Trump mengeluarkan pernyataan menenangkan setelah harga minyak melonjak dan saham jatuh, lalu mengeluarkan ancaman ketika pasar kembali menguat. Pola tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Trump dapat meluncurkan operasi darat yang lama diantisipasi pada akhir pekan libur ketika lantai perdagangan tutup.
Trump dijadwalkan menyampaikan pidato televisi “penting” tentang perang pada Kamis pukul 2 pagi waktu Inggris, yang bisa bertepatan dengan perkembangan besar karena AS terus mengirimkan personel dan perlengkapan militer ke kawasan Teluk.
Pada Rabu, Trump mengklaim bahwa Iran telah meminta gencatan senjata, namun ia menegaskan bahwa hingga Selat Hormuz dibuka kembali, “kami sedang menghantam Iran hingga lenyap, atau seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu.”
Teheran menyebut klaim bahwa mereka meminta gencatan senjata sebagai “palsu dan tidak berdasar.”
Sementara itu, ribuan pasukan respons cepat AS telah ditempatkan di kawasan, dengan rencana operasi yang mencakup kemungkinan merebut terminal minyak utama Iran di Pulau Kharg, pulau-pulau strategis di Selat Hormuz, atau bahkan sebagian garis pantai.
Para analis menilai Trump memiliki beberapa opsi, mulai dari operasi darat terbatas hingga ekspansi yang berisiko menimbulkan “mission creep.” Ada pula kemungkinan Trump memilih keluar tanpa kesepakatan, atau membuka jalur negosiasi dengan Iran melalui mediator internasional.
