Prajurit RI Gugur di Lebanon, Ketua DPR Minta Tanggung Jawab Internasional

Laporan: Juven Martua Sitompul
Rabu, 01 April 2026 | 00:59 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani. (SinPo.id/Tim Media)
Ketua DPR RI Puan Maharani. (SinPo.id/Tim Media)

SinPo.id -  Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong tanggung jawab komunitas internasional atas serangan Israel ke Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) yang menyebabkan tiga prajurit asal Indonesia gugur.

Puan menyatakan mendukung langkah pemerintah yang meminta otoritas-otoritas terkait untuk melakukan investigasi atas gugurnya prajurit tersebut.

"Negara berhak meminta pertanggungjawaban komunitas internasional sebagai bentuk perlindungan bagi setiap tumpah darah Indonesia," kata Puan dalam keterangannya, Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.

Menurut dia, pengorbanan prajurit TNI di Lebanon mengingatkan bahwa posisi Indonesia di panggung internasional dibangun bukan hanya melalui pernyataan politik, melainkan juga keberanian berdiri di garis depan ketika dunia menghadapi konflik.

Oleh karena itu, Puan menilai penghormatan terbaik kepada prajurit yang gugur adalah dengan memastikan bahwa pengabdian mereka memperkuat kesadaran nasional dan internasional.

"Kesadaran bahwa perdamaian dunia bukan agenda yang jauh dari kepentingan Indonesia, melainkan bagian dari tanggung jawab yang selalu memiliki konsekuensi nyata," ujarnya.

Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) ini mengatakan keterlibatan Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia tidak pernah berada di ruang yang sepenuhnya aman, meskipun dijalankan di bawah mandat internasional.

Puan mengungkapkan selama ini kehadiran Indonesia dalam operasi perdamaian dunia sering dipahami publik hanya sebagai simbol diplomasi aktif negara. Namun, peristiwa di Lebanon menunjukkan ada risiko nyata yang harus dibaca sebagai bagian dari perubahan lanskap konflik global.

"Ketika prajurit Indonesia gugur dalam misi perdamaian, itu menunjukkan bahwa komitmen Indonesia terhadap perdamaian internasional selalu dibayar dengan tanggung jawab yang tidak ringan," ucapnya.

Dia menuturkan peristiwa ini juga memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara komitmen internasional Indonesia dan perlindungan maksimal terhadap personel yang ditugaskan.

Puan menyebut keberanian pasukan Indonesia di medan konflik harus selalu diikuti dengan kesiapan negara memastikan bahwa setiap perkembangan ancaman dipetakan secara lebih adaptif.

Ketua DPP PDIP ini mengharapkan kejadian itu dapat semakin meningkatkan kesadaran bagi semua pihak betapa pentingnya langkah dan upaya menciptakan perdamaian, terutama bagi pihak-pihak yang masih berseteru dan berada dalam konflik geopolitik berkepanjangan.

"Perang harus segera dihentikan. Sudah berapa banyak korban berjatuhan demi kekuasaan pihak-pihak tertentu. Perserikatan Bangsa-Bangsa harus berani bertindak tegas," katanya.

Terakhir, Puan menyampaikan turut menyampaikan dukacita atas peristiwa tersebut. "Atas nama DPR RI maupun pribadi, saya sampaikan dukacita mendalam atas gugurnya tiga anak bangsa yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan di Lebanon," ucapnya.

Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL, gugur akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu, 29 Maret 2026.

Sementara itu, tiga personel lainnya, yakni Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan terluka akibat serangan tersebut.

Berselang sehari, PBB melaporkan dua anggota pasukan penjaga perdamaian UNIFIL asal Indonesia gugur dan dua prajurit lainnya terluka dalam serangan terhadap konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan di Lebanon selatan pada Senin, 30 Maret 2026.

Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah menjelaskan dua prajurit yang gugur itu adalah Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Sementara itu, dua prajurit yang terluka adalah Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI