Netanyahu Usulkan Jalur Pipa Energi Baru untuk Hindari Selat Hormuz

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 31 Maret 2026 | 05:03 WIB
Benyamin Netanyahu (wikipedia)
Benyamin Netanyahu (wikipedia)

SinPo.id -  Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pengalihan jalur pipa energi sebagai salah satu opsi jangka panjang bagi Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan global pada Selat Hormuz. Hal itu disampaikan dalam wawancara dengan CEO Newsmax, Christopher Ruddy, Senin.

“Solusi jangka panjang termasuk mengalihkan jalur pipa energi ke arah barat — melintasi Arab Saudi menuju Laut Merah dan Mediterania — sehingga melewati titik cekik geografis Iran,” kata Netanyahu.

Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman, merupakan salah satu rute transit minyak paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat ini setiap hari, menjadikannya urat nadi penting bagi pasar energi internasional sekaligus titik rawan ketegangan geopolitik.

Iran berulang kali mengisyaratkan kemampuannya untuk mengancam atau menutup selat tersebut dalam situasi konflik, memberi leverage besar meski kekuatan militernya terbatas. Analis konservatif telah lama memperingatkan bahwa ketergantungan pada Selat Hormuz membuat Barat rentan terhadap tekanan dari aktor bermusuhan.

Dengan mengusulkan jalur alternatif melalui negara sekutu seperti Arab Saudi, Netanyahu menekankan pendekatan strategis yang berorientasi pada keamanan energi dan pengurangan kerentanan. Proyek semacam itu, meski mahal dan kompleks, diyakini dapat mengurangi pengaruh Iran atas arus minyak global sekaligus memperkuat kemitraan dengan sekutu regional yang menentang Teheran.

Dalam jangka pendek, fokus tetap pada menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan aman. Pasukan laut AS dan sekutu secara historis telah berpatroli di kawasan tersebut untuk mencegah agresi dan menjamin kebebasan navigasi — prinsip yang disebut Netanyahu dan para pemimpin lain sebagai hal yang tidak bisa ditawar.

Pernyataan Netanyahu mencerminkan strategi konservatif yang lebih luas: menghadapi ancaman langsung sembari berinvestasi pada solusi jangka panjang yang melemahkan pengaruh lawan. Di tengah berlanjutnya perang dengan Iran, masa depan Selat Hormuz dan stabilitas energi global tetap menjadi perhatian utama bagi para pembuat kebijakan di Washington, Yerusalem, dan dunia internasional.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI