Trump Ungkap Negosiasi dengan Ketua Parlemen Iran, Ancaman Serangan Masif Jika Gagal

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 31 Maret 2026 | 04:59 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)

SinPo.id -  Washington telah berbicara mengenai negosiasi dengan Iran selama berminggu-minggu tanpa menyebutkan siapa lawan bicaranya. Untuk pertama kalinya, Presiden AS Donald Trump menyebut nama Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai sosok yang mungkin akan berinteraksi dengan Washington. “Kita akan segera mengetahuinya,” kata Trump kepada New York Post. “Saya akan beri tahu Anda dalam sekitar satu minggu.”

Pernyataan Trump muncul setelah Iran menyerang infrastruktur energi penting, termasuk kilang minyak Israel, dalam eskalasi konflik yang sedang berlangsung. Ditanya soal responsnya, Trump menjawab: “Anda akan segera melihatnya.”

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak akan mundur. “Perang ini tidak akan berakhir tanpa kemenangan,” ujarnya, sekaligus menolak kemungkinan menyerah.

Trump mengklaim telah terjadi pergeseran besar dalam kepemimpinan Iran. “Telah terjadi perubahan total rezim karena rezim sebelumnya sudah tidak ada, dan kini kita berhadapan dengan kelompok baru yang jauh lebih masuk akal,” katanya. Ketika ditekan apakah mereka berbeda dari musuh-musuh AS sebelumnya, Trump menjawab: “Kurang lebih. Orang-orang lama itu semua sudah mati.”

Trump juga menyinggung kondisi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. “Tidak ada yang mendengar kabar darinya. Kami pikir kemungkinan besar iya, tapi dalam kondisi sangat buruk,” kata Trump.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut ada “kemajuan besar” dalam pembicaraan dan kemungkinan tercapai kesepakatan. Namun ia memperingatkan, jika tidak ada kesepakatan segera — dan Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali — AS bisa “menghancurkan total” pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg milik Iran. Ia menambahkan fasilitas desalinasi air bersih juga bisa menjadi target, sebagai bentuk “pembalasan” atas korban jiwa AS selama “47 tahun rezim teror” Iran.

Trump sebelumnya mengatakan Washington akan menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari, hingga 6 April. Namun Teheran membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS. Ghalibaf menyebut upaya diplomasi yang dikaitkan dengan Pakistan hanyalah kedok untuk penumpukan pasukan AS, sementara Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan pembicaraan bisa berlangsung dalam beberapa hari mendatang.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI