Gedung Putih Isyaratkan Trump Akan Minta Negara Arab Bayar Biaya Perang Iran

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 31 Maret 2026 | 06:54 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)

SinPo.id -  Gedung Putih mengisyaratkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan meminta negara-negara Arab menanggung biaya perang AS melawan Iran, yang diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.

Juru bicara Trump, Karoline Leavitt, ditanya pada Senin apakah negara-negara Arab seharusnya membayar biaya perang, seperti ketika sekutu Washington membantu mendanai intervensi AS dalam Perang Teluk 1990. “Saya pikir ini sesuatu yang sangat mungkin akan diminta presiden untuk mereka lakukan,” kata Leavitt kepada wartawan. “Saya tidak akan mendahului beliau, tetapi jelas ini adalah ide yang beliau miliki, dan saya pikir Anda akan mendengar lebih banyak darinya soal ini.”

Pada Perang Teluk, negara-negara Arab bersama sekutu internasional, termasuk Jerman dan Jepang, mengumpulkan dana sebesar 54 miliar dolar (setara 134 miliar dolar saat ini) untuk mendukung operasi militer AS. Namun kali ini, AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran secara sepihak tanpa melibatkan sekutu maupun negara kawasan.

Komentator sayap kanan dekat Trump, Sean Hannity, sebelumnya mengatakan setiap kesepakatan gencatan senjata harus mencakup syarat agar Iran membayar seluruh biaya perang. “Mereka harus setuju membayar Amerika dengan minyak untuk seluruh biaya operasi militer ini,” ujar Hannity.

Sementara itu, Iran menetapkan kompensasi atas kerusakan perang sebagai salah satu syaratnya. Teheran telah membalas serangan AS dan Israel dengan rudal serta drone ke berbagai wilayah Timur Tengah, termasuk menyerang situs sipil seperti hotel, bandara, dan infrastruktur energi di sejumlah negara Teluk.

Media AS melaporkan bahwa dalam enam hari pertama perang, biaya mencapai 11,3 miliar dolar, dan naik menjadi 16,5 miliar dolar pada hari ke-12. Kini, saat perang memasuki hari ke-31, tagihan diperkirakan jauh lebih tinggi. Gedung Putih bahkan meminta tambahan anggaran militer sebesar 200 miliar dolar dari Kongres untuk mendanai kampanye militer di Iran dan mengisi kembali persediaan amunisi Pentagon.

Lonjakan biaya perang juga berdampak pada harga energi global. Harga rata-rata bensin di AS kini mencapai 3,99 dolar per galon, naik lebih dari satu dolar dibanding sebelum perang.

Leavitt menegaskan kembali bahwa pemerintahan Trump melihat kenaikan harga energi sebagai konsekuensi jangka pendek. “Pesan utama kami, seperti yang berulang kali kami sampaikan: Ini adalah tindakan jangka pendek dan fluktuasi harga jangka pendek demi manfaat jangka panjang untuk mengakhiri ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap Amerika Serikat, pasukan kami, dan sekutu kami di kawasan,” katanya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI