Donald Trump Sebut Putra Mahkota Saudi Harus 'Bersikap Baik' di Tengah Perang Iran-AS
SinPo.id - Dalam sebuah acara investasi di Miami yang mempromosikan kerja sama Amerika Serikat dengan Arab Saudi, Presiden Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Ia mengatakan kepada audiens bahwa mereka bisa menanyakan apa saja kepadanya, “bahkan soal seks,” dan menyebut Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman sebagai “anak yang hebat” bagi sang raja.
“Dia tidak berpikir akan mencium pantat saya... Dia mengira saya hanya akan menjadi presiden Amerika yang kalah, di mana negara sedang menurun. Tapi sekarang dia harus bersikap baik kepada saya,” ujar Trump.
Selain komentar tersebut, Trump juga menyatakan bahwa Iran sedang “memohon untuk membuat kesepakatan” dan bahwa mereka “harus” membuka Selat Hormuz, yang secara keliru ia sebut sebagai “Selat Trump.”
Namun, pada saat Trump melontarkan pernyataan itu, rudal dan drone Iran menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan milik AS di Arab Saudi, melukai 12 personel militer Amerika dan merusak sejumlah pesawat, termasuk E-3 Sentry senilai sekitar 300 juta dolar AS.
Sementara itu, konflik semakin meluas. Pemberontak Houthi di Yaman meluncurkan rudal jarak jauh ke Israel, sementara Pasukan Pertahanan Israel memperluas operasi di Lebanon selatan hingga Beirut. Iran juga menghancurkan pabrik aluminium di Abu Dhabi. Tambahan 3.500 marinir dan pelaut AS telah tiba di Timur Tengah, meningkatkan jumlah pasukan Amerika di kawasan menjadi sekitar 53.500.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut, termasuk kemungkinan penutupan Selat Bab-el-Mandeb di Yaman yang dapat mengganggu jalur perdagangan menuju Terusan Suez. Jika kedua jalur vital – Selat Hormuz dan Bab-el-Mandeb – ditutup, dampaknya terhadap ekonomi global bisa sangat parah.
Meski ada jalur komunikasi tidak langsung melalui Mesir, Turki, dan Pakistan, perang ini semakin memperburuk kondisi Amerika dan sekutunya, membuat negara-negara Teluk semakin rentan, serta meninggalkan Yaman dan Lebanon dalam kehancuran.
Trump kini menghadapi tantangan besar untuk meyakinkan rakyat Amerika bahwa “petualangan” ini layak, menjelang pemilu kongres November 2026. Jika perang berujung pada kekalahan, Trump berisiko kehilangan dukungan politik.
