Christopher Armitage Peringatkan Amerika Serikat Terancam Kolaps Akibat Perang dengan Iran
SinPo.id - Pakar kesiapsiagaan bencana, penulis, sekaligus veteran Angkatan Udara Amerika Serikat, Christopher Armitage, mengeluarkan peringatan keras bahwa gangguan rantai pasok akibat perang AS dengan Iran telah menempatkan Amerika Serikat di jalur menuju “total collapse” dalam enam bulan ke depan. Kondisi ini disebut semakin diperburuk oleh pemangkasan program jaring pengaman sosial oleh pemerintahan Trump.
Dalam tulisannya di Substack The Existentialist Republic, Armitage menyoroti bahwa hampir 50 juta warga Amerika menghadapi kelaparan pada 2025, termasuk 14 juta anak-anak. Ia juga menekankan bahwa hanya 48 jam setelah AS menyerang Iran, negara Timur Tengah itu langsung menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman di mana sepertiga pupuk dunia mengalir.
“(Pupuk) harus tiba bulan ini. Jendela tanam tidak menunggu, jadi pengiriman tepat waktu sangat kritis dalam jendela tanam,” tulis Armitage.
Armitage menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki cadangan strategis untuk pupuk nitrogen, berbeda dengan cadangan minyak strategis yang dimiliki.
“Tidak ada cadangan strategis untuk pupuk. Amerika Serikat memang memiliki Strategic Petroleum Reserve untuk minyak. Tidak ada yang setara untuk nitrogen. Ketika pasokan menipis, petani menanggung harga, mengurangi pemakaian, atau mengganti tanaman. Panen akan membayar akibatnya di musim gugur,” jelasnya.
Hingga Minggu, Iran masih menolak akses kapal laut yang berafiliasi dengan AS ke Selat Hormuz. Dengan jendela tanam yang semakin sempit, Armitage memperingatkan bahwa Amerika Serikat bisa segera menghadapi krisis bersejarah.
“Jendela tanam hampir tertutup. Kapal-kapal masih berlabuh. Enam bulan seperti ini, mungkin kurang, dan kita akan melihat total collapse Amerika Serikat,” tulisnya.
Armitage bahkan menggunakan metafora untuk menggambarkan situasi yang dihadapi AS:
“Inilah metafora untuk membantu menggambarkan situasi. Kapal itu sudah berlubang. Kru perawatan dipecat. Sekoci kemudian dibakar. Dan kemudian mereka menabrak gunung es. Dengan kecepatan penuh.”
