BGN: Program MBG Dorong Transformasi Besar Sektor Peternakan Nasional

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 28 Maret 2026 | 18:43 WIB
Ilustrasi petugas SPPG sedang menata ompreng MBG. (SinPo.id/Agus)
Ilustrasi petugas SPPG sedang menata ompreng MBG. (SinPo.id/Agus)

SinPo.id - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menjadi pengungkit utama transformasi sektor peternakan nasional. Hal ini disampaikannya dalam International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation hari kedua di Auditorium Gedung BJ Habibie, Jakarta, Sabtu, 28 Maret 2026.

Sony menjelaskan, melalui skema MBG, pemerintah secara langsung mendanai pengadaan bahan baku pangan, termasuk produk ternak seperti susu, daging, dan telur, yang digunakan di setiap dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk insentif tidak langsung bagi pengembangan industri peternakan dalam negeri.

“Pendanaan bahan baku oleh MBG menciptakan kepastian permintaan, sehingga dapat mendorong produksi dan investasi di sektor peternakan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa MBG akan membentuk pasar captive dalam skala sangat besar untuk komoditas protein hewani. Program ini diproyeksikan menciptakan permintaan multi-miliar kilogram untuk susu dan produk peternakan lainnya, yang secara signifikan akan membentuk ulang struktur industri peternakan dan susu di Indonesia.

Dari sisi kebutuhan produksi, Sony mengungkapkan bahwa permintaan MBG setara dengan penambahan sekitar 800.000 sapi perah, 1,6 miliar ayam pedaging, serta lebih dari 70 juta ayam petelur. Skala tersebut menunjukkan besarnya transformasi yang akan terjadi dalam sektor peternakan nasional.

“Ini merupakan lompatan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pengembangan peternakan Indonesia,” tegasnya.

Namun demikian, ia juga menggarisbawahi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Tantangan tersebut meliputi peningkatan kapasitas produksi untuk memenuhi lonjakan permintaan, persoalan distribusi dan disparitas harga antarwilayah, serta isu keamanan pangan.

Selain itu, ketergantungan terhadap impor bahan baku pakan dan produk tertentu juga menjadi perhatian, di samping perlunya regenerasi petani dan peningkatan kesejahteraan peternak agar sektor ini tetap berkelanjutan. Di sisi lain, Sony melihat peluang besar dari implementasi MBG, antara lain dalam menarik investasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta menciptakan lapangan kerja baru di sepanjang rantai pasok peternakan.

Menurutnya, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, termasuk dukungan riset dan inovasi, penguatan kebijakan, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pelaku usaha peternakan.

“Jika dikelola dengan baik, MBG tidak hanya meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi berbasis peternakan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI