PBB Soroti Dampak Ekonomi dari Ketegangan di Timur Tengah
SinPo.id - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyoroti dampak ekonomi dari menanasnya ketegangan di Timur Tengah, terutama terkait dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran akibat serangan Amerika dan Iarael.
"Penutupan Selat (Hormuz) yang berkepanjangan mencekik pergerakan minyak, gas, dan pupuk pada saat kritis dalam musim tanam global," kata Guterres, dilansir dari Anadolu, Kamis, 26 Maret 2026.
Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur penting untuk perdagangan barang dan energi global. Akibat perang, lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz sebagian besar terganggu oleh meningkatnya ketegangan di Teluk.
Selat tersebut juga menghubungkan Arab Saudi, UEA, Kuwait, Qatar, Irak, dan Iran ke pasar global, serta menangani sekitar 25 persen perdagangan minyak global, sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair, dan hampir 30 persen perdagangan pupuk.
Selain perang di Iran, Guterres juga menyoroti operasi militer Israel di Lebanon yang terus menyasar warga sipil, sama seperti yang terjadi di Gaza.
"Israel harus menghentikan operasi militer dan serangannya di Lebanon, yang paling berdampak buruk pada warga sipil. Model Gaza tidak boleh ditiru di Lebanon," tegasnya.
Sementara dalam upaya untuk meredakan ketegangan, Guterres mengumumkan penunjukan Jean Arnault dari Prancis sebagai utusan pribadinya untuk memimpin upaya PBB dalam konflik. Pihaknya berharap, konflik dapat diselesaikan dengan diplomasi.
