Menag Tekankan Menjaga Nilai Ramadan Usai Idulfitri
SinPo.id - Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya menjaga dan menginternalisasi nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari setelah Idulfitri. Menurutnya, keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari ibadah selama bulan suci, tetapi dari konsistensi perilaku setelahnya.
Hal itu disampaikan Nasaruddin dalam keterangannya, dikutip Rabu, 25 Maret 2026.
Ia mengingatkan agar nilai-nilai yang dibangun selama Ramadan tidak hilang setelah bulan suci berakhir.
Menurut Menag, Ramadan merupakan proses pembentukan karakter yang mencakup penguatan nilai kejujuran, keadilan, kebersamaan, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
“Yang paling penting, nilai-nilai Ramadan itu harus dipatrikan dalam diri kita. Kejujuran, keadilan, kebersamaan, toleransi, dan sifat-sifat keutamaan yang lainnya, jangan sampai nanti lewat Ramadhan kita kembali kambuh lagi. Nilai-nilai itu harus dipatrikan dalam diri kita,” ujar Menag.
Ia menilai, konsistensi dalam menjaga nilai-nilai tersebut akan berdampak pada kualitas kehidupan berbangsa. Masyarakat yang mampu mempertahankan spirit Ramadan dinilai dapat menciptakan suasana yang lebih harmonis dan produktif.
“Kalau ini kita ikuti perkembangan Ramadan, maka kita akan menjadi produk Ramadan yang sangat sejuk, sangat indah, cerah dan mencerahkan,” kata dia.
Selain itu, Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek yang dapat merusak kohesi sosial.
“Saya minta persatuan dan kesatuan. Jangan sampai kita terkecoh oleh satu kepentingan sesaat, lalu saling menyikut antar sesama warga bangsa. Itu akan melemahkan sendi-sendi kebangsaan kita,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan mengenai “fitrah kebangsaan” yang perlu dipulihkan, Menag menekankan bahwa kecenderungan mementingkan diri sendiri harus dihindari.
“Saya kira individualisme itu jangan sampai bersarang di hati dan di pikiran setiap anak bangsa. Ini yang menjadi racun. Kalau semua orang mementingkan dirinya sendiri,” tuturnya.
Dengan demikian, momentum Idulfitri, menurut Menag, seharusnya menjadi titik awal untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan pribadi maupun sosial, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan.
