'Pelangi di Mars' Bawa Kisah Heroik untuk Selamatkan Manusia Bumi

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 22 Maret 2026 | 10:02 WIB
Film Pelangi di Mars. (SinPo.id/Antara)
Film Pelangi di Mars. (SinPo.id/Antara)

SinPo.id - Mahakarya Pictures merilis film animasi berunsur fiksi ilmiah berjudul “Pelangi di Mars” yang disutradarai oleh Upie Guava dengan latar cerita keberanian seorang astronot yang ingin menyelamatkan kehidupan manusia di bumi.

“Pelangi di Mars" adalah film keluarga yang menceritakan saat manusia Bumi mengeksplorasi Mars lebih jauh karena di planet asal mereka saat itu sedang terjadi krisis air.

Film dimulai dengan cerita berlatar tahun 2082 saat planet Bumi tercemar air kotor parah sehingga kehidupan di Bumi tidak layak lagi ditinggali.

Seorang astronot perempuan Indonesia bernama Pratiwi (diperankan oleh Lutesha) ditugaskan untuk mencari mineral zeolite omega di planet Mars yang nantinya akan digunakan untuk menjernihkan air di bumi agar kehidupan bumi kembali normal.

Misi Pratiwi sederhana, mengumpulkan mineral tersebut ke kapal luar angkasa yang sudah disiapkan, lalu ia akan bisa kembali ke Bumi bertemu suaminya (diperankan oleh Rio Dewanto) dan hidup bahagia disana. Namun ternyata pencariannya tidak semudah itu.

Di tengah misinya mencari zeolite omega, banyak tantangan seperti medan planet Mars yang tidak bersahabat, yang membuat para peneliti yang ada di sana pulang ke bumi meninggalkan dirinya tanpa diketahui oleh siapapun. Pratiwi juga mendapatkan keajaiban di tengah kesulitannya sendiri di planet asing dengan mendapati dirinya hamil dan lahirlah Pelangi (diperankan oleh Messi Gusti) sebagai anak pertama yang lahir di Mars.

Petualangan Pratiwi dan Pelangi berlanjut hingga di tahun 2139. Pelangi dan Bu Pratiwi berkeliling Mars ditemani robot bernama Batik (suara diisi Bimoky) untuk menemukan zeolite omega. Mereka juga harus menghindari robot Nerotek yang ingin mengambil alih penelitian tentang mineral tersebut.

Namun kehidupan di Mars tidak semudah yang diharapkan Pelangi. Saat dirinya beranjak dewasa. ia harus sendirian mencari zeolite omega setelah ibunya hilang dalam badai. Pelangi dan robot Batik pun melanjutkan pencarian tanpa tahu bentuk dan lokasi mineral tersebut. Robot Batik seakan menjadi “ayah" yang selalu menjaga pelangi dari bahaya robot asing.

Petualangan Pelangi di planet Mars juga diramaikan dengan kehadiran robot lain seperti robot Rusia Petya (Gilang Dirga), Yoman (Kristo Immanuel) dari Eropa, Sulil (Dimitri Arditya) dari India dan Kimchi (Vanya Rivani) dari Korea untuk melewati ganasnya medan planet Mars.

Produksi film "Pelangi di Mars" memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR) yang dikembangkan selama lima tahun oleh Studio DossGuavaXR milik Upie Guava guna memperkuat kedalaman penyampaian cerita. Selain XR, film ini juga menggunakan Unreal Engine, teknologi grafis real-time yang banyak diterapkan dalam produksi film modern dan industri video gim.

Proses produksi film ini melibatkan lebih dari 200 tenaga kreatif asli Indonesia, mulai dari tim efek visual, animator, desainer produksi, hingga teknisi digital.

Pembuatan film ini berangkat dari keresahan Upie bersama produser Dendi Reynando dari Mahakarya Pictures terhadap minimnya film anak Indonesia yang menampilkan keberanian dan nilai-nilai humanis dalam balutan cerita fiksi yang mampu membangkitkan imajinasi.

“Kami tumbuh dengan banyak cerita yang menumbuhkan mimpi besar, seperti menjadi astronot atau ilmuwan. Melalui 'Pelangi di Mars' kami ingin menghadirkan kisah petualangan yang dekat dengan sains dan eksplorasi ruang angkasa, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak Indonesia terhadap ilmu pengetahuan sebagai bekal menuju Indonesia Emas,” ujar Upie.

Sebagai sutradara, Upie meyakini film ini bisa menjadi pilihan baru untuk keluarga mengenalkan cerita berbalut ilmiah dan kecanggihan teknologi kepada anak.

Ia dan Dendi juga memiliki tujuan besar melalui film ini agar keluarga yang menonton bersama anaknya bisa membangkitkan diskusi mengenai isu keberlanjutan dan bagaimana menjaga dan melestarikan bumi di masa depan.

“Film keluarga di Indonesia masih sangat terbatas. Kami ingin menghadirkan cerita yang bisa menjadi pengalaman menonton bersama antara orang tua dan anak. Harapannya, film ini bisa menjadi momen kebersamaan yang berkesan bagi keluarga Indonesia,” ujar Dendi.

Dengan teknologi yang dihadirkan dalam film, Dendi mengatakan momen ini menunjukkan bahwa industri kreatif Indonesia memiliki kapasitas untuk menghadirkan karya dengan standar produksi yang semakin maju.

Proses syuting Pelangi di Mars, menurut pemeran Pelangi, Messi, berlangsung dengan cara yang tidak biasa dan menuntut kemampuan imajinasi tinggi. Proses tersebut didukung oleh acting coach Almanzo Konoralma yang membantu para pemain menghidupkan karakter masing-masing.

Manzo menjelaskan, dalam proses perekaman gerakan (motion capture), Messi harus berimajinasi seolah sedang berbicara dengan robot Batik yang digambarkan bertubuh tinggi dan besar. Padahal, ia hanya berinteraksi dengan penanda yang ditempatkan di kepala Manzo, yang berperan sebagai body actor karakter Batik.

Pengalaman serupa juga dirasakan para body actor karakter robot lainnya, seperti Dimitri Arditya yang memerankan robot Sulil dan Rika Kenja sebagai body actor robot Petya. Mereka harus menjalani pelatihan intensif untuk menyesuaikan gerakan tubuh, terutama dalam mengadaptasi pergerakan tangan dan roda robot agar terlihat natural di layar.

Manzo menambahkan, proses syuting film ini terbagi dalam tiga tahap. Pertama, perekaman gerakan untuk menangkap gestur karakter robot bersama para body actor. Kedua, pengambilan gambar menggunakan metode XR. Ketiga, proses syuting untuk menyelaraskan dialog dengan set virtual yang telah dibuat dalam format tiga dimensi.

Tidak hanya proses pengambilan gambar, kostum yang dikenakan serta tuntutan untuk membayangkan diri berada di planet Mars juga menjadi tantangan tersendiri bagi para aktor maupun body actor.

Film ini turut mendapatkan dukungan pemerintah melalui Perusahaan Film Negara (PFN) dan Kementerian Ekonomi Kreatif, yang melakukan berbagai aktivasi promosi, di antaranya instalasi balon robot Batik raksasa serta peluncuran IP Pelangi di Mars sebagai livery kereta KAI.

Melalui kehadiran film fiksi ilmiah berteknologi tinggi seperti Pelangi di Mars, para pendukung film berharap karya ini dapat menjadi salah satu tolok ukur baru bagi perkembangan film nasional di masa depan.

"Pelangi di Mars" diharapkan menjadi bagian dari perjalanan sinema Indonesia sekaligus pilihan tontonan yang relevan untuk momen libur Lebaran, dengan menghadirkan nilai imajinasi, inspirasi teknologi, serta penguatan literasi cerita anak Indonesia.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI