Gubernur DKI Sebut Jakarta Bedug Festival Upaya Rawat Tradisi-Gerakkan Ekonomi Kota
SinPo.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Jakarta Bedug Festival di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jumat malam, 20 Maret, sebagai bagian dari rangkaian Car Free Night menyambut Idulfitri 1447 Hijriah.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai perhelatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya merawat tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi kota.
“Dentuman bedug yang menggema menjadi simbol semangat kebersamaan dan kekuatan tradisi dalam menyambut hari kemenangan,” kata Pramono dalam keterangannya dikutip Sabtu, 21 Maret 2026.
Adapun festival tersebut menghadirkan sekitar 1.000 bedug yang mewakili wilayah administratif di Jakarta. Sebanyak 261 kelurahan disebut masing-masing mengirimkan empat bedug beserta perangkat musik pendukung.
Selain dari Jakarta, kata dia, peserta juga datang dari sejumlah daerah seperti Banten dan Sumatera Barat.
"Pemerintah provinsi turut melibatkan sekitar 3.000 peserta dalam Pawai Obor Elektrik yang diikuti pelajar, komunitas, dan masyarakat umum," tuturnya.
Menurut Pramono, kegiatan ini dirancang dengan pendekatan budaya yang dipadukan dengan unsur modern.
“Ada parade kendaraan hias dari Monas hingga Bundaran HI yang menampilkan ornamen Ramadan dan Idulfitri, memadukan budaya Betawi dengan sentuhan kekinian,” ujar Pramono.
Dia menyebut, rangkaian acara juga dimeriahkan pertunjukan air mancur bertema “Jakarta: Rhythm of the Fountain”. Pemerintah berharap atraksi tersebut dapat menarik minat warga sekaligus wisatawan.
Pramono menekankan, festival ini memiliki dimensi ekonomi selain kultural. Ia menyebut kegiatan tersebut diharapkan menjadi “magnet wisata budaya” yang mampu menggerakkan perekonomian lokal. “Ini juga bagian dari program Mudik ke Jakarta,” kata dia.
Sementara itu, Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin menilai festival ini menjawab kerinduan warga terhadap perayaan ruang publik yang sempat terhenti.
Dia mengapresiasi pemerintah daerah yang kembali menghadirkan kegiatan berbasis keagamaan.
“Kegiatan ini menjadi sesuatu yang dirindukan masyarakat setelah sekian lama tidak diselenggarakan,” ujar Khoirudin.
Dia menambahkan, kegiatan semacam ini berpotensi meningkatkan transaksi ekonomi di berbagai sektor.
Kendati demikian,, lanjutnya, penyelenggaraan acara berskala besar di ruang publik juga menuntut pengelolaan yang matang, terutama terkait arus lalu lintas dan keamanan.
"Pemerintah provinsi belum merinci evaluasi teknis pelaksanaan festival tersebut," pungkasnya.
