Eropa dan Jepang Siap Intervensi Selat Hormuz, Desak Iran Hentikan Gangguan Jalur Minyak
SinPo.id - Sejumlah negara Eropa bersama Jepang menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi guna membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini terganggu akibat ketegangan dengan Iran.
Para pemimpin dari Britania Raya, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, serta Jepang menandatangani surat bersama pada 19 Maret 2026 yang menegaskan komitmen tersebut.
Mereka mendesak Iran untuk menghentikan tindakan yang mengganggu jalur pelayaran internasional, yang merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia.
“Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam upaya yang diperlukan guna memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz. Kami juga menyambut komitmen negara-negara yang terlibat dalam perencanaan,” tulis para pemimpin dalam pernyataan tersebut.
Ancaman bagi Keamanan Global
Para pemimpin menilai gangguan terhadap kebebasan navigasi dan distribusi energi global merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.
“Mengganggu pelayaran internasional dan pasokan energi global adalah ancaman bagi perdamaian dunia. Dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat di seluruh dunia, terutama kelompok paling rentan,” lanjut pernyataan itu.
Mereka juga menyerukan semua negara untuk menghormati hukum internasional dan menjaga stabilitas global.
Dukung Langkah AS Stabilkan Harga Energi
Pernyataan tersebut juga menyambut langkah International Energy Agency yang sebelumnya menyetujui permintaan Presiden AS Donald Trump untuk melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna menekan lonjakan harga energi.
Selain itu, negara-negara tersebut menyatakan akan mengambil langkah tambahan untuk menstabilkan pasar energi, termasuk bekerja sama dengan negara produsen untuk meningkatkan produksi minyak.
Tekanan terhadap Sekutu NATO
Sebelumnya, Trump juga mendesak sekutu-sekutu Barat untuk ikut terlibat dalam upaya membuka Selat Hormuz.
Ia bahkan mengkritik NATO karena dinilai kurang memberikan dukungan terhadap operasi militer AS.
“Amerika Serikat telah diberitahu oleh sebagian besar sekutu NATO bahwa mereka tidak ingin terlibat. Saya selalu menganggap NATO seperti jalan satu arah,” kata Trump.
Dampak Global Terus Menguat
Ketegangan di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dunia menembus angka 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi berdampak luas terhadap pasar energi internasional.
Dengan meningkatnya tekanan dari negara-negara Barat dan Jepang, situasi di kawasan Teluk kini menjadi perhatian utama dunia, terutama terkait keamanan energi dan risiko eskalasi konflik yang lebih besar.
