MUI Minta Hormati Perbedaan Lebaran dengan Sikap Toleransi

Laporan: Tio Pirnando
Kamis, 19 Maret 2026 | 19:09 WIB
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Buya Amirsyah Tambunan. (SinPo.id/dok. Mui)
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Buya Amirsyah Tambunan. (SinPo.id/dok. Mui)

SinPo.id - Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan mengimbau umat Islam untuk menunggu hasil sidang Isbat 1 Syawal 1447 H. Penentuan 1 Syawal merupakan wilayah ijtihadi para ulama yang memungkinkan terjadinya perbedaan, dan perbedaan dalam wilayah ijtihad merupakan keniscayaan. 

"Ini wilayah ijtihadi para ulama. Sedangkan peran umara' menetapkan (isbat), seperti wasit yang menjadi fasilitator sebagai jembatan untuk mempertemukan perbedaan," kata Buya Amirsyah dalam keterangannya, Kamis, 19 Maret 2026. 

Buya Amirsyah mengingatkan, apabila  terdapat perbedaan dalam hasil sidang Isbat, maka umat harus menyikapinya dengan tasamuh. 

"Namun, jika terdapat perbedaan maka perlu sikap toleransi (tasamuh) dalam wilayah perbedaan (majalul i'tilaf). Sikap tasamuh dalam bentuk lapang dada sehingga tidak menimbulkan sikap saling menyalahkan. Yang penting memiliki dasar kuat mencari kebenaran, bukan pembenaran," tegasnya. 

Buya Amirsyah menjelaskan, penggunaan Bil-Ilmi (hisab/perhitungan) dan Bil-Ru'yah (pengamatan langsung) adalah dua metode penetapan awal bulan Kamariyah (Ramadhan/Syawal) dalam Islam. 

"Bil-Ilmi menggunakan astronomi untuk menghitung posisi hilal, sedangkan Bil Ru'yah menggunakan pengamatan fisik hilal secara langsung atau dengan alat. Keduanya bertujuan menemukan hilal," ujarnya. 

Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang penetapan (isbat) 1 Syawal 1447 Hijriyah pada hari ini, Kamis (19/3/2026) bertepatan 29 Ramadan 1447 Hijriah. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI