Serangan Trump ke Iran Berujung Krisis Global

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 19 Maret 2026 | 05:25 WIB
Rudal (APA)
Rudal (APA)

SinPo.id -  Ketegangan global kian memanas setelah serangan militer Amerika Serikat ke Iran yang didukung Israel menuai kritik tajam dari berbagai analis. Mantan jenderal Angkatan Darat AS, Mark Hertling, menilai operasi tersebut lebih menyerupai “proyek pemasaran” dibanding kampanye militer yang matang dan terencana.

Serangan yang dipimpin Presiden AS Donald Trump justru memicu dampak yang jauh lebih luas dari yang diperkirakan. Iran tidak hanya mampu membalas dengan rudal dan drone, tetapi juga mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia.

Penutupan selat tersebut langsung mengguncang arus distribusi global. Lalu lintas kapal tanker dilaporkan anjlok drastis hingga hanya sekitar tiga persen dari kondisi normal. Bahkan, Angkatan Laut AS disebut belum mampu mengamankan jalur tersebut, memaksa Washington meminta bantuan negara-negara NATO.

Analis militer Phillips O’Brien menyebut situasi ini berpotensi memperpanjang konflik dan mengubahnya menjadi perang berskala global. Hal ini karena banyak negara sangat bergantung pada pasokan energi dan komoditas dari kawasan Teluk Persia.

Dampak ekonomi pun mulai terasa. Produksi minyak di kawasan tersebut turun tajam dari sekitar 30 juta barel per hari menjadi hanya 10 juta. Negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan India menjadi yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi.

Tidak hanya energi, gangguan juga terjadi pada pasokan helium dari Qatar—komoditas penting untuk teknologi medis seperti MRI, industri semikonduktor, hingga sektor dirgantara. Harga helium diprediksi melonjak drastis akibat terhentinya distribusi.

Sektor pangan global turut terancam. Negara-negara Teluk diketahui menyumbang sekitar 20 persen perdagangan pupuk dunia. Gangguan pasokan ini berpotensi memicu krisis pangan di kawasan Asia, Afrika, hingga Timur Tengah, terutama menjelang musim tanam.

Sejumlah negara bahkan mulai melakukan penghematan energi, seperti pembatasan penggunaan bahan bakar, pengurangan jam kerja, hingga imbauan untuk mengurangi penggunaan pendingin ruangan.

Para pengamat menilai kebijakan agresif Trump sejak awal masa jabatannya—termasuk tarif perdagangan dan ancaman terhadap negara lain—telah memperburuk hubungan internasional. Kini, konflik dengan Iran dinilai telah mengubah peta geopolitik, di mana Amerika Serikat dan sekutunya berhadapan dengan sebagian besar dunia.

Di sisi lain, negara-negara seperti Rusia dan produsen energi lain justru diuntungkan dari kenaikan harga minyak. Sementara itu, China diprediksi akan memperkuat pengaruhnya melalui kerja sama perdagangan baru dengan negara-negara yang terdampak.

Situasi ini juga mendorong sebagian negara untuk mempercepat transisi energi ke sumber terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi, guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Jika konflik ini terus berlanjut, dunia tidak hanya menghadapi perang regional, tetapi juga krisis global yang berdampak pada energi, pangan, dan stabilitas ekonomi internasional.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI